Diskusi Publik “Perang Global Melawan Terorisme”

Tewasnya Noordin M. Top dan Saifuddin Zuhri bagi beberapa kalangan tidak menjamin terorisme di indonesia telah mati. Terorisme selalu akan ada sebagai bentuk respon atas pelbagai situasi sosial kekinian. sekalipun gerakan mereka dianggap destruktif dan negatif, tapi kelompok teroris masih punya “suara”. Dan tak ada kekuatan lain yang dapat membendung gerakan teroris.
Perang melawan terorisme perlu disuarakan sebagai jaminan atas kebebasan dan penghargaan terhadap keyakinan dan keberagamaan. Bagaimanapun persoalan terorisme merupakan bagian dari problem kemanusiaan yang cukup kompleks sekaligus sebagai ancaman global.
Atas dasar itulah Forum Mahasiswa Ciputat bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta menyelenggarakan Diskusi Publik berjudul “Perang Global Melawan Terorisme.”
NARA SUMBER
1. Sidney Jones
(Senior Adviser International Crisis Group, ICG)
Topik: Komparasi Gerakan Terorisme Indonesia dan Duinia
2. Uil Abshar Abdalla
(Jaringan Islam Liberal)
Topik: Agama, Radikalisme dan Ancaman Terorisme Global
3. Noorhaidi Hasan
(UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Topik: Terorisme Indonesia – Timur Tengah
MODERATOR: Saidiman
Kamis, November 5, 2009 Pukul: 8:00am – 1:00pm
Gedung Auditorium Student Center (SC) UIN Jakarta
Merah Putih; Sebuah Pesan Akan Pentingnya Persatuan
Tanggal rilis : 13 Agustus 2009 (INA)
Genre : action
Durasi : 108 menit
Sutradara : Yadi Sugandi
Pemain : Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Zumi Zola, Saraswati
Produksi : PT Media Desa dan Margate House
Peresensi: Sukron Hadi, Pegiat di Forum Mahasiswa Ciputat [FORMACI]
“Priyayi melawan Petani, Jawa melawan Sulawesi. Siapa yang menang?! Belanda!!!.” Pekik Soerono (Zumi Zola) menghentikan pertengkaran antara Marius dan Thomas.
Di atas adalah sepenggal adegan dalam film “Merah Putih,” sekuel pertama dari trilogi Merdeka. Adegan di atas menggambarkan konflik latar belakang kesukuan, agama dan status yang mewarnai sekolah calon Tentara Rakyat Indonesia yang berada di Jawa Tengah.
Film ini berlatar Indonesia tahun 1947, pasca-kemerdekaan. Di mana saat masa tersebut pemerintah Belanda berharap untuk menguasai Indonesia kembali, namun mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Sehingga Belanda pun melakukan agresi di berbagai wilayah di Indonesia untuk membasmi pejuang kemerdekaan.
permintaan maaf
atas nama sukron hadi
meminta maaf kepada Saudara Slamet Thohari, karena tulisan yang berjudul “Beberapa pemikiran Bourdieu” yang dipampang di blog formaci, merupakan resuman dan plagiat 80% dr skripsi Slamet Thohari dan tidak mencantumkan nama yang bersangkutan.
Tentang Candu Dan Ingatan, Trauma dan Sejarah Dalam Sajak-Sajak Paul Celan
Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009
Oleh Sulaiman Djaya ( Penggiat Kubah Budaya Serang Banten dan Forum Mahasiswa Ciputat)
Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu
(Paul Celan, Die Feste Burg).
Look not upon me, because I am black,
my mother children were angry with me;
they made me the keeper of the vineyards;
but mine own vineyard have I not kept.
Tell me, O, thou my soul loveth, where thou feedest,
where thou makest thy flock to rest at noon;
For why should I be as one that turneth aside
by thy flocks of thy companions? /
I have compared thee, O, my love,
to a company of horses in Pharao’s chariots
(Song of Songs).
Demokrasi, Kecewa dan Harap
Demokrasi dan Kekecewaan
Penulis: Goenawan Mohamad, dkk.
Penyunting: Ihsan Ali-Fauzi & Samsu Rizal Panggabean
Penerbit: Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad), Yayasan Paramadina, 2009
Tebal: xvi + 100 halaman
KETIKA politik jatuh menjadi semata-mata persaingan rutin mengejar kuasa dengan berbagai cara, demokrasi jadi nasib buruk yang tak dapat ditampik. Ulah para anggota DPR yang korup, politikus yang hanya berkhidmat kursi, dan partai-partai yang terlampau egoistis mengejar kepentingannya membuat harapan pada demokrasi jadi retak.
Sketsa Konsili XXI Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
Oleh: Sukron Hadi
Sabtu 7 Februari 2009, kami, 60 anggota Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dari berbagai generasi bersuka ria menikmati perjalanan menuju pantai Carita untuk mengadakan Konsili yang ke 21. Enam puluh adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan anggota Formaci yang sebenarnya, yang pernah aktif di forum diskusi ini, dari tahun berdirinya 1986, sampai 2009 ini.
Creative Capitalism versi J.A. Schumpeter
Oleh Muhammad Irsyad
Banyak analis mengatakan bahwa krisis finansial global yang dimulai dari AS, sesungguhnya merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembangunan ekonomi yang berlebihan di sektor finansial dibandingkan sektor riil yang berakar dari sistem moneter buatan The Fed. Dan cara yang populer untuk mengatasi krisis ini, karenanya, adalah dengan memberikan energi yang lebih besar pada sektor riil sebagaimana yang pernah dilakukan Presiden AS Roosevelt bersama penasehat ekonominya yang terkenal John Maynard Keynes untuk membangun secara massif infrastruktur sektor riil pasca terjadinya depresi besar di AS, di tahun 1930-an. Yang mendorong produktifitas riil tak lain adalah kerja, inovasi dan kreatifitas. Akar kreatifitas ini ditemukan dalam karya-karya ekonom Jerman, Joseph Alois Schumpeter. Menurut Jerry Z. Muller dalam bukunya The Mind and the Market, Schumpeter menjadikan tema kepemimpinan kreatif (creative leadership) sebagai isu sentral dalam konsepsinya tentang kapitalisme. Schumpeter memang bukan orang pertama yang melakukan hal itu tapi ia mampu mengembangkan implikasi-implikasi dari kepemimpinan kreatif lebih luas dan mengintegrasikannya dengan ilmu ekonomi yang ada saat itu. Makalah ini akan berusaha mengeksplorasi hal itu.
Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas
Oleh: Saidiman
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.
“FPI dengan Bambu Runcing Serang Barisan Massa yang terdapat Ibu-ibu, Orang-tua, Pemuda dan Beberapa Anak Kecil”
Lapangan Monas, Minggu, 1 Juni, ratusan massa dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), mengadakan apel siang di Monas, untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Mereka menyeru untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar Negara dan juga mereka menyeru kepada Bangsa untuk menjunjung martabat Bangsa Indonesia dengan menghargai kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan apapun di Negeri pertiwi ini.
Kasus “Kronologis”
Majalah Tempo, Edisi. 13/XXXVII/19 – 25 Mei 2008
Zaim Rofiqi
Penerjemah di Freedom Institute, Pegiat Diskusi di Formaci
Di sebuah stasiun televisi, tampak Tukul Arwana sedang memandu sebuah acara bincang-bincang yang sekarang sedang populer. Sambil bercanda, Tukul bertanya kepada salah seorang bintang tamu acara itu: ”Kronologisnya bagaimana? Kenapa sampai kecurian laptop itu?”
Saya tercenung: ”kronologis”? Saya pindah ke stasiun lain. Berita tentang pembunuhan dua anak oleh ibu kandungnya sendiri. Di tengah-tengah tayangan berita itu, seorang penyiar dengan ringan berkata: ”Berikut ini adalah kronologis pembunuhan keji itu.” Saya kembali tercenung: ”kronologis”?
Demokrasi dan Kekecewaan
Recent Comments