Indonesian Efforts to Defend Multiculturalism

By Testriono

 

Jakarta – Recent cases of religious intolerance in Indonesia have led some observers to worry that US President Barack Obama’s praise of religious tolerance in Indonesia during his visit in November 2010 was exaggerated. Public statements and decrees from Indonesian government officials have discredited religious minority groups and exacerbated conflict between minority religious groups and the largely Sunni Muslim population in some Indonesian communities. Read more…

Terorisme Versus Islam

Oleh Saidiman Ahmad

Sumber: Koran Tempo, 25 April 2011

Segera setelah bom di masjid Mapolresta Cirebon meledak (15/04), banyak kalangan mempertanyakan motivasi pelaku bom tersebut. Tapi yang juga tak kalah penting bagi kita sekarang ini adalah dengan apa pelaku teror itu melegitimasi aksinya? Read more…

Argumen Islam untuk Kebebasan

Oleh Saidiman Ahmad

Dimuat di Koran Tempo, 15 April 2011

Debat yang muncul seputar keberadaan sekte Islam Ahmadiyah memasuki babak baru menyusul perlakukan kekerasan yang mereka alami. Kampanye anti-Ahmadiyah yang begitu massif semakin menyudutkan kelompok yang memang marjinal ini. Betapapun kuat argumen bahwa Ahmadiyah hanyalah sekte di dalam Islam, tapi kenyataan bahwa banyak orang yang berpikiran lain tidak bisa diabaikan. Persoalannya, anggapan bahwa Ahmadiyah berada di luar Islam inilah yang dijadikan dalih bagi sekelompok orang untuk terus-menerus menganggu, meneror, bahkan membunuh anggota Ahmadiyah. Read more…

Kritik atas Nalar Pelarangan Ahmadiyah

Oleh Saidiman Ahmad

Dimuat di Koran Tempo, 10 Maret 2011

Pasca-pembunuhan terhadap tiga warga Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, muncul gejala yang sangat memprihatinkan. Memang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merespons cepat dengan memberi perintah agar mencari jalan legal untuk membubarkan organisasi yang sering membuat kekisruhan. Yang menarik, beberapa daerah justru merespons perintah Presiden itu dengan mengeluarkan peraturan pembekuan kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Pemerintah daerah Pandeglang mengeluarkan larangan bagi anggota Ahmadiyah melakukan kegiatannya. Pemda Jawa Timur mengeluarkan perintah yang melarang semua kegiatan Ahmadiyah di Jawa Timur. Di Banjarmasin, pemerintah bahkan melarang penggunaan masjid Ahmadiyah. Adapun di Jawa Barat, gubernur mengeluarkan perintah pembekuan kegiatan Ahmadiyah. Read more…

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah: Tanggapan terhadap Dr. Syamsuddin Arif dan Ahmad Rofiqi (Bagian terakhir dari tiga tulisan)

Oleh Akhmad Sahal

Sumber: Mendaras Islam, Minggu, 20 Maret 2011

Dr. Syamsuddin Arif dalam tulisannya di bagian kedua merumuskan pandangannya tentang status orang murtad menurut Islam sebagai berikut:

“Maka ahli-ahli hukum Islam yang disebut fuqaha sepakat bahwa orang yang murtad (keluar dari Islam) mesti dijatuhi hukuman mati. Ini dikukuhkan oleh sabda Rasulullah yang diriwayatkan Imam an-Nasa’i:Siapa yang menukar agamanya maka bunuhlah dia (man baddala dinahu fa-uqtuluhu).” Maka tatkala Mu‘adz ibn Jabal berkunjung ke kediaman Abu Musa al-Asy‘ari di Yaman dan melihat seorang Yahudi diikat lantaran masuk Islam tetapi kemudian keluar lagi (murtad), beliau berkata: “Aku tidak akan duduk sebelum orang ini dieksekusi. Demikianlah ketentuan Allah dan RasulNya (la ajlisu hatta yuqtala, qadha’Allahi wa rasulihi).” Pendapat ini yang dipegang antara lain oleh Imam at-Thahawi dan sebagian ulama salaf. Sementara mayoritas ahli fiqih empat mazhab menyatakan perlunya kesempatan terakhir diberikan kepada yang si murtad untuk bertaubat dalam tempo maksimal tiga hari. Dasarnya adalah kebijakan Sayyidina ‘Umar ibn al-Khaththab dan Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib dalam menangani kasus murtad.”

Apakah kesimpulan Dr. Arif di atas bisa dipertahankan dari sudut pandang doktrin Islam? Marilah kita periksa satu persatu bukti-bukti tekstual yang ada tentang pokok soal ini: Read more…

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah: Tanggapan terhadap Dr. Syamsuddin Arif dan Ahmad Rofiqi (Bagian kedua dari tiga tulisan)

Oleh Akhmad Sahal

Sumber: Mendaras Islam, Senin 14 Maret 2011

Ahmad Rofiqi juga merujuk pada surat diplomatik Abu Bakr untuk menopang pendapatnya bahwa kaum murtad wajib diperangi dan dibunuh semata-mata karena kemurtadannya. Rofiqi menulis:

“Surat diplomatik Khalifah Abu Bakar ra ini berbunyi jelas, ketika menggambarkan alasan perang yang ia lakukan adalah: “…keluarnya orang-orang diantara kalian dari agamanya setelah tadinya mengakui Islam dan mengamalkannya”. Jadi alasannya adalah: “keluar dari agama” atau murtad. …..Abu Bakar ra tidak membicarakan tentang masalah isu keamanan negara dan sejenisnya. Beliau hanya menyebutkan alasan utama perang adalah memberantas kemurtadan nabi palsu.” Read more…

Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah: Tanggapan terhadap Dr. Syamsuddin Arif dan Ahmad Rofiqi (bagian pertama dari tiga tulisan)

Oleh Akhmad Sahal

Tulisan saya di Koran Tempo, “Nabi Palsu, Sikap Nabi dan Ahmadiyah” ditanggapi secara keras oleh Dr. Syamsuddin Arif di Hidayatullah.com dan Ahmad Rofiqi di notes facebook-nya.

( Untuk tulisan saya, lihat:http://www.tempointeraktif.com/hg/kolom/2011/02/16/kol,20110216-324,id.html

Untuk tulisan Dr. Syamsuddin Arif, lihat:http://www.hidayatullah.com/read/15606/28/02/2011/-menyikapi-%E2%80%98nabi-palsu%E2%80%99-dan-ahmadiyah-%281%29.html

Untuk tulisan Ahmad Rofiqi, lihat:

http://www.facebook.com/#!/notes/ahmad-rofiqi/kasus-nabi-palsu-dan-sikap-rasulullah-saw-tanggapan-terhadap-akhmad-sahal-di-maj/10150121665244681

Juga lihat:

http://pemikiranislam.multiply.com/journal/item/26 )

Kedua penanggap tersebut pada intinya menegaskan bahwa gerakan murtad apapun bentuknya harus diperangi dengan tanpa kompromi, dan kaum murtad harus dibunuh. Dr. Syamsuddin Arif mengklaim bahwa sikap Nabi Muhammad SAW dan khalifah Abu Bakr sangatlah tegas dalam memerangi gerakan nabi palsu, baik yang membangun kekuatan militer seperti dalam kasus Musailamah al-Kazzab, maupun yang tidak, seperti kasus al-Aswad al-‘Unsi dan Thulaikhah bin Khuwailid. Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengutip surat ayat al-Qur’an ( al Ma’idah 33:34) dan hadist: “barang siapa menukar agamanya, maka bunuhlah.” Read more…

Indonesian example counters fears of radical religious states in Tunisia/Egypt

by Testriono

Source: Common Ground News Service (CGNews), 29 March 2011

29 March 2011

Jakarta – Many scholars are pessimistic that Tunisia’s Jasmine Revolution and the political transition in Egypt will successfully bring about democracy in these countries, and worry that there is a significant risk of Islamic political groups, some with radical interpretations of shari’a (Islamic principles of jurisprudence), taking on an inordinately influential role during the political transition.

Is there any truth to the argument that Islam is incompatible with democracy?

The Indonesian example suggests otherwise. Read more…

More to religious (in)tolerance in Indonesia than meets the eye

Source: Common Ground News Service (CGNews), 25 January 2011

Copyright permission is granted for publication.

Testriono

At the end of 2010, two Indonesian civil society organisations that work to promote tolerance and understanding in Indonesia, the Moderate Muslim Society (MMS) and the Wahid Institute (WI), separately released the results of research they had conducted on religious life in Indonesia. Both showed significant increases in the number of religiously motivated attacks and discrimination against minority religious groups. Read more…

Menyegarkan Kembali Pembaharuan Islam Indonesia

Sumber: Koran Tempo, Jumat, 14 Januari 2011

 

Oleh Muhammad Ja’far, Peneliti di Lembaga Studi Agama dan Filsafat dan Testriono, Peneliti di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dinamika keberagamaan di Indonesia pada dekade terakhir ini adalah basis penting untuk mengevaluasi gerak pembaharuan Islam kini. Realitas keberagamaan tersebut merupakan ekspresi sekaligus aktualisasi dari gagasan pemikiran keislaman sebagai sumbunya. Kenyataannya, api pembaharuan Islam tetap masih menyala. Tapi jangkauan capaiannya, baik “lebar” maupun “kedalamannya”, itu yang penting untuk dievaluasi.

Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.