Archive

Archive for April, 2008

Ahmadiyah dan Muslim Demokrat

April 25, 2008 formaci 2 comments
Koran Tempo, 23 April 2008

Oleh: Saidiman

Presiden tidak akan menindaklanjuti keputusan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan di Masyarakat (Bakor Pakem) tentang pelarangan kegiatan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dalam bentuk pembubaran JAI. Pembubaran JAI bentuk pelanggaran Konstitusi dan akan menjadi preseden buruk bagi Presiden dan juga bangsa Indonesia di dunia internasional.

Read more…

Categories: artikel

Kartini dan Islam

April 23, 2008 formaci Leave a comment

Koran Tempo, 22 April 2008

Oleh:  Nong Darol Mahmada
Peneliti di Freedom Institute; Pendiri Jaringan Islam Liberal; Mantan Imam Formaci

Riwayat Kartini telah menjadi sumber ilham yang tak pernah kering. Tiap tahun di hari kelahirannya pasti bermunculan ulasan tentang tokoh ini dari pelbagai perspektif. Selain pribadinya, hidupnya yang sarat dengan persoalan pun merupakan bahan kajian yang menarik. Kecerdasannya luar biasa. Bayangkan, di usianya yang masih sangat muda, dia berhasil merumuskan dan mendeskripsikan persoalan-persoalan yang terjadi pada bangsanya dalam korespondensi dengan sahabat-sahabat penanya di Belanda.

Read more…

Categories: artikel

Ahmadiyah

April 21, 2008 formaci 11 comments

Oleh: Testriono

Penulis Skenario Film, Aktif di Formaci

“Rasa hormatku kepada keyakinan yang lain, sama besar seperti kepada
keyakinanku sendiri,” ujar Gandhi suatu ketika. Tapi di sini, di
negeri yang semestinya menjamin kebebasan beragama, sikap ini justru
harus diperjuangkan, sesungguh-sungguhnya.

Di bulan ini sebuah agama, mungkin tepatnya aliran, dilarang oleh
Bakor Pakem: Ahmadiyah. Kita tak tahu, wahyu manakah yang mereka
gunakan untuk membubarkan sebuah iman. Yang pasti, maklumat itu
lahir dari sejumlah fikiran, juga nurani, yang tak bisa melihat
perbedaan itu sebagai iradah: sebuah kemestian sejarah.

Read more…

Categories: artikel

Yang Otoritatif dan Yang Otoriter

April 17, 2008 formaci Leave a comment

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Dalam Islam, peranan teks (nas) memegang posisi yang sangat sentral. Teks yang dimaksud adalah Alquran dan Hadits. Dua hal tersebut oleh nabi sendiri disebut sebagai “warisan yang apabila kita semua berpegang pada keduanya niscaya tidak akan tersesat dalam kehidupan di dunia ini” Dalam keyakinan umat Islam, meski dalam beberapa hal masih diperdebatkan, Alquran dan Hadits adalah teks yang merangkum semesta realitas. Alquran dan Hadits bukan hanya kitab yang menerangkan hal-hal keagamaan seperti tata cara ibadah ritrual, dasar-dasar keimanan, hukum, masalah eskatologis dan lain-lain, tetapi benar-benar kitab kehidupan. Tak ada satupun yang luput dari keduanya.

Read more…

Categories: artikel

The 36-UAE National Day, Congratulation…..!!!!

April 15, 2008 formaci Leave a comment

.

Oleh: Pitri Handayani

Mengenang Saif Saeed Ghubash..Mengenang Saif Saeed Ghubash..
Berberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 2 – 3 Desember UAE merayakan hari jadinya yang ke 36. Perayaan ini dimeriahkan oleh berbagai acara dan atribut yang melambangkan angka 36 dan bendera UAE. Hingga abaya yang dikenakan sebagian perempuan lokalnya pun diberi pita bercorak hitam, merah, hijau dan putih sebagai warna dari bendera UAE. Seperti di bundaran depan restoranku di sekitar kawasan Up Town mirdiff ini, penuh dengan orang-orang yang mengikuti aneka games dalam karnaval pada malam harinya. Ada juga pertunjukkan akrobat dan musik shows oleh artis-artis lokal. Tentu saja suasana ini menguntungkan restoranku yang juga letaknya sangat strategis. Hampir setiap malam padat pengunjung. Terutama pada saat weekend, kamis malam hingga sabtu malam, suasana bisnis di restoranku cukup sibuk hingga kadang kewalahan dan sebagian diantara kami telat untuk break. Selain karena menyambut hari jadinya ini, bulan Desember adalah juga jelang hari natal dan tahun baru. Dubai, dimana terdapat ragam budaya dan agama, juga tidak lepas dari atribut pohon natal di sana sini.

Read more…

Categories: artikel

Mengurai Benang Kusut Hubungan Agama dan Negara

April 10, 2008 formaci Leave a comment

Oleh: Sukron Hadi

Anggota Jaringan Islam Kampus (JARIK). Mahasiswa fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta. Bergiat di Forum Mahasiswa Ciputat)

Berhembusnya gagasan sekularisme, sebagai konsekuensi dari semangat Modernitas dunia Barat, ke dalam diskursus keislaman, telah menyita perhatian para intelektual Muslim. Silang pendapat di antara mereka yang pro dan kontra menambah daftra panjang perdebatan sekularisme di dunia Islam. Muhammad Abid Al-Jabiri merupakan salah seorang pemikir Arab kontemporer yang merasa perlu terlibat dalam alotnya diskursus ini.

Read more…

Categories: artikel

Konsili XX

April 10, 2008 formaci 2 comments

Spanduk itu kecil betul, kontras dengan yang ada di bawahnya…….

Read more…

Categories: Uncategorized

Verbalisme Ayat-ayat Cinta

April 9, 2008 formaci Leave a comment

Oleh: Saidiman

Twenty One Bintaro, Jakarta, tempat saya menonton malam itu memang sesak, dan yang menarik adalah dipenuhi oleh ibu-ibu dan bapak-bapak setengah baya, sesuatu yang sangat tidak lazim untuk film-film yang lain. Dua orang bapak-bapak harus kecewa karena ia memilih tempat duduk paling depan yang dia kira adalah tempat duduk paling belakang.

Memang ada beberapa hal yang menarik dari film ini, di samping beberapa kekurangan yang cukup fatal. Kelebihan pertama adalah bahwa film ini dibintangi oleh pemeran yang benar-benar gagah dan cantik. Kelebihan kedua adalah dari sudut cerita yang tragis. Saya kira ini adalah salah satu kisah cinta yang dahsyat, seperti kisah-kisah cinta yang lain yang juga sering dahsyat.

ayat_ayat_cinta_movie_poster_210.jpgKekurangan fatalnya adalah bahwa film ini belum mampu keluar dari bentuk film Indonesia yang lain yang hampir seluruhnya selalu tampak verbal dalam menjelaskan sebuah gagasan. Karena film ini salah satunya dimaksudkan sebagai syiar agama, maka agama yang dimaksud adalah ayat, salat, ceramah, azan, dan lagu salawat yang dilantunkan oleh Emha Ainun Nadjib. Fahri dan Aisyah bertemu pertama kali di sebuah kereta. Ada dua orang bule yang dilecehkan oleh penumpang Mesir karena mereka dianggap kafir dan teroris. Kebencian orang Mesir terhadap Amerika tidak divisualisasikan, melainkan terlalu banyak dikatakan. Fahri dan Aisyah saat itu membela sang Bule, maka berkenalanlah mereka.

Fahri yang sepanjang film selalu didesak oleh orang tuanya di Semarang untuk menikah, harus selalu menjelaskan kepada penonton, dengan kata-kata, bahwa Islam tidak mengenal pacaran, yang ada adalah ta’aruf. Maka pusinglah ia karena selalu bingung menentukan pilihan. Ia dikerumuni banyak gadis, tapi tak satupun yang menjadi pacarnya. Gadis-gadis itu adalah Nurul (anak kiai besar Jawa), Maria (gadis Kristen Koptik yang luar biasa cantik), Noura (anak seorang Mesir yang perankan oleh Zaskia Mecca), Aisyah (muslimah bercadar keturunan Jerman), dan masih banyak lain yang tidak disebutkan nama-namanya, tetapi mereka selalu bergosip mengenai Fahri sambil mengupas jeruk.

Ketika Fahri putus asa di dalam penjara karena tak juga mampu membuktikan bahwa ia bukanlah pemerkosa Zaskia Mecca, teman sebuinya yang tak punya gigi depan itu dengan gesit menasehati Fahri tentang pentingnya sabar dan ikhlas. Tak lupa ia menceritakan kembali kisah Yusuf yang dituduh memperkosa Zulaikha. Yang bikin pusing adalah bahwa kisah itu diceritakan secara detil.

Kekurangan yang paling fatal adalah bahwa film ini, saya kira, sama sekali tidak menggambarkan Mesir, yang konon menjadi salah satu kekuatan novel Ayat-ayat Cinta. Dan yang paling menyedihkan adalah bahwa Mesir digambarkan sangat kumuh. Mesir adalah unta, kambing, ayam di pinggir jalan, penjual kurma, dan keriuhan pasar di lorong sempit. Apa betul Mesir sekarang seperti itu? Saya kira Mesir yang digambarkan Hanung itu adalah Mesir zaman Nabi tetapi dengan beberapa penduduk yang memakai jeans dan memegang handphone. Belum lagi bicara kondisi kost mahasiswa S2 Mesir itu yang lebih memprihatinkan daripada mahasiswa S1 di Ciputat.

Kekurangan lain yang saya tangkap adalah ketidaksensitifan film ini terhadap isu toleransi beragama. Secara kasar film ini menggambarkan ketercerahan Maria untuk memeluk Islam, sementara sebelumnya ia adalah Kristen Koptik. Maria dipaksa oleh cerita untuk mengucapkan syahadat dan menjadi Muslimah. Di akhir cerita Maria berkata “Ajari aku salat, aku ingin salat bersama kalian.” Lalu salatlah mereka, maka suara Emha muncullah, dan Maria mati.

Kendati Fahri tidak hanya menikah dengan Aisyah, tetapi juga dengan Maria, saya kok cenderung tidak melihat ada kampanye poligami di dalamnya. Yang justru diungkap adalah fakta betapa poligami adalah sesuatu yang sangat tidak ideal, bahkan jika pun itu dilakukan dengan terpaksa. Fahri melakukan poligami dengan terpaksa. Tetapi toh tetap digambarkan penuh masalah. Di malam pertama mereka bertiga, Aisyah bertanya kepada Fahri, “Fahri, malam ini kamu tidur dimana?” Akhirnya ketiganya tidur berpisah. Selama masa poligami itu, Fahri benar-benar adalah sosok yang rapuh. Ia harus banyak menutup diri kepada kedua isterinya. Masalah kecenburuan juga tidak berusaha ditutup-tutupi. Menurut saya, film ini justru lebih banyak menunjukkan sisi kelam poligami, ketimbang mengkampanyekannya. Di akhir cerita, Maria “dimatikan.” Maka hiduplah mereka berdua, Fahri dan Aisyah, dengan bahagai untuk selamanya.

Categories: resensi film

Wanita itu tidak ada!

April 7, 2008 formaci 2 comments

Oleh : M. Soleh

Siapa bilang wanita itu tidak ada? Anda tidak akan berani mengatakannya. Perempuan ada di mana-mana. Ia ada kapan saja. Wanita selalu ada dalam benak pria. Pria membutuhkannnya. Itu alamiah. Pria akan selalu berdampingan dengannya untuk mewariskan keabadian, jika ia punya anak darinya. Namun bila ada yang bilang sebaliknya: wanita tidak ada! Pasti anda akan terkesiap. Anda merasa ditipu.

Pastinya ini bukan omong kosong. Memang, wanita itu tidak ada. Mengapa begitu? Ini bukan hal keinginan yang tidak kesampaian atau bertepuk sebelah tangan. Bagi para filsuf, wanita itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia selalu surut. Bersembunyi, atau bermaian dengan penampilan. Ketika ia menampilkan dirinya, ia dengan segera berpunggungan. Ia dengan tutur menggoda, atau paras yang ranum. Itu bukan soalnya. Soalnya adalah ia selalu ingin didekati. Ia ingin dijemput pria. Meski pria selalu tertarik olehnya, wanita selalu menghindar. Ia tidak mau di miliki. Ia ingin selalu dinantikan. Wanita adalah penantian dan penantian itu sendiri. Setiap penantian akan menjadi penantian hanya jika yang dinanti tak pernah muncul. Ia tidak ada. Ia adalah “lubang” atau kekosongan itu sendiri, melansir istilah Lacan, Lack. Karena itu wanita bukan hal yang bisa dimiliki. Wanita menjadi mustahil. Wanita itu abadi, kalau kata Goethe. Dan apa-apa yang abadi selalu menjadi hal ihwal. Karena itu ia tidak ada.

Tentu, ini bukan pandangan misoginis. Sepertinya berlebihan. Wanita memang selalu berlebihan, karena ia adalah “kelebihan” itu sendiri. Jika wanita itu tidak ada, maka citra tentang wanita itu menjadi lebih, excess. Kita tidak bisa memikirkan wanita karena wanita berada di luar pikiran. Wanita tidak bisa dipikirkan. Jika ia ada di dalam pikiran, maka ia bukan ketiadaan lagi.

Mengapa wanita itu tidak ada? Bagi Lacan, setiap keinginan ibu adalah keinginan ayah. Ayah selalu memiliki kekuasaan. Dalam mitologi, “tragedi Oedipus” menjadi asal usul adanya peradaban. Freud pernah mengandaikan bahwa setiap anak selalu cemburu terhadap ayah karena ayah mendominasi ibu. Anak juga membutuhkan ibu. Ia perlu perawatan, kasih sayang, sentuhan lembut, atau gizi air susu. Namun, semua hubungan yang awalnya antara si anak dan si ibu menjadi terpisah. Menghasrati ibu selalu tidak penuh karena perhatian ibu terbagi dengan ayah. Si ayah mengebiri (castration) hasrat si anak. Inses menjadi tidak mungkin. Si ibu yang menjadi objek hasrat bagi si anak menjadi hilang.

Ayah kemudian menjadi Big Other dalam masyarakat yang memerintah sepenuhnya hasrat si ibu. Bisa dimengerti jika setiap kekuasaan atau “ayah” mempertahankan efektifitasnya dengan melarang atau menegakkan hukum. Tidak ada masyarakat tanpa kekuasaan yang disimbolkan oleh ayah. Karena itu di mana ada hukum di situ tidak ada wanita, dan transgresi terhadap hukum adalah sesuatu yang tidak mungkin: bisa di anggap menyimpang, abnormal, sakit, atau gila. Barangkali manusia alamiah yang dilandaskan pada survive dan mencari order, dengan niscaya telah selalu mengeksklusi setiap kemungkinan wanita untuk muncul. Wanita selalu ditindas. Wanita masih tersimpan.

Tidak aneh jika Oedipus adalah kisah tragis. Oedipus harus “membutakan” matanya, setelah bersebadan dengan ibunya sendiri . ia juga menjadi penyebab ibunya menjanda. Mencari wanita sama saja tidak mencintai mata sendiri, karena bertemu wanita akan membutakan mata kita. Cerita yang telah berusia dua millennium itu kiranya tetap relevan kenapa wanita selalu terpinggirkan: karena kita masih perlu mata kita. Tanpa mata, kita tidak bisa mengetahui, dan semakin tahu kita menjauhkan wanita. Ia selalu jauh, tapi ia tetap melambaikan tangannya, memanggil, untuk mendekatinya, kendati itu tidak mungkin. Karena ia tidak ada, kita terus menantinya, meski ia memang tak pernah akan datang. Sapaannya “sore” itu menjadikan kedatangannya hanyalah sebatas janji.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Kini bergiat di Forum Mahasiswa Ciputat

Categories: Uncategorized

Agar Kebebasan Perempuan Tak Lagi Tersudutkan

April 7, 2008 formaci Leave a comment

Oleh: Syaira Rahmani*

Kini zaman persamaan. Pembedaan antara lelaki-perempuan hanyalah masa lalu. Benarkah? Setidaknya, tanpa mengumbar data pun, ada lima ranah yang secara kasatmata masih basah oleh diskriminasi:

pertama, dalam masyarakat kita, perempuan disubordinasi dalam pengambilan keputusan. Bahkan, kadang untuk urusan bersama (laki-laki dan perempuan). Akibatnya, perempuan tidak dapat mengontrol apabila keputusan itu tidak menguntungkan atau malah merugikan mereka.

Kedua, perempuan tidak memiliki kesempatan seperti laki-laki dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi dan politik, sehingga perempuan secara ekonomi terpinggirkan dan secara politik termarjinalkan. Tidak saja soal gaji, persoalan kesejahteraan yang lain seperti tunjangan, perempuan sering diperlakukan secara berbeda. Untuk mendapatkan jatah 30% saja di parlemen butuh perjuangan.

Ketiga, perempuan sering mendapat label negatif, misalnya, perempuan itu penggoda, kanca wingking (berperan di sektor domestik), swarga nunut neraka katut, emosional dan kurang rasional, dan seterusnya.

Keempat, perempuan juga sering menjadi korban kekerasan baik di wilayah privat atau di wilayah publik seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Perlunya UU antikekerasan rumah tangga belakangan ini sungguh membuktikan betapa banyaknya fenomena ini.

Kelima, dalam keluarga, perempuan sering mempunyai beban pekerjaan yang jauh lebih berat dari laki-laki akan tetapi hasil kerja perempuan sering kali tidak dihargai seperti pekerjaan laki-laki

Lalu mengapa pembedaan dan ketidakadilan ini terus saja didaur-ulang? Bahkan, sudah menjadi kebiasaan yang mengakar dan menjadi patokan. Ada banyak kacamata analisis untuk melihatnya. Tapi, yang saya tergelitik ketika kenyataan dan kebiasaan ini dilegalkan atas nama agama. Kepatuhan perempuan dianggap kesucian. Penomorduaan perempuan sudah titah Tuhan. Benarkah Tuhan memandang perempuan sebagai makhluk nomor dua setelah laki-laki sehingga ketidakberdayaan perempuan perlu dimaklumi dan sudah kodrati dari Tuhan?

Antara Teks Otentik dan Penafsiran Relatif

Dengan merujuk pada surat al-Ahzab [33]:33 tak sedikit orang memandang bahwa tempat yang cocok bagi perempuan adalah di rumah, an-Nisa’ [4]: 34 laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan, al-Baqarah [2]:228 mengedepankan kelebihan laki-laki atas perempuan.

Dari segi Hadis, mereka merujuk pada periwayatan Abu Bakrah: Telah kuperoleh keberuntungan dari Allah melalui sebuah kalimat yang saya dengar dari Rasulullah SAW pada hari-hari perang Jamal sesudah aku bergabung dengan Pasukan Jamal (Siti Aisyah) dan berperang bersama mereka. Katanya, tatkala berita sampai kepada Rasulullah SAW bahwa masyarakat Parsi menobatkan putri Kisra sebagai raja, Rasulullah pun bersabda, “Tidak akan berjaya masyarakat yang menyerahkan urusan (kepemimpinan)nya kepada perempuan. (HR Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Turmudzi).

Bisakah ayat-ayat dan hadis di atas dijadikan keputusan mutlak untuk menjadikan perempuan terisolasi? Jika ayat-ayat tersebut dijadikan landasan, mungkinkah Tuhan memiliki sifat diskriminatif dengan membedakan hak manusia (laki-laki) atas manusia lain (perempuan)? Atau ini hanyalah penafsiran para mufasir dalam mereprentasikan teks Al-Quran?

Dalam agama apa pun, Tuhan diakui memiliki otoritas. Tapi, Tuhan tidak melaksanakan otoritas-Nya secara langsung, tapi diwakili oleh teks agama (wahyu). Sebagai teks, wahyu itu pun tak langsung bicara tanpa pembaca atau penafsirnya. Penafsirlah juru bicara otoritas Tuhan itu. Dengan kata lain, Tuhan berwenang (otoritatif) dan kewenangan-Nya diwakili oleh manusia—ulama, fakih, dan mufasir—yang tidak selalu bersih dari kesewenang-wenangan (otoriter).

Dan kenyataannya, sejarah tafsir adalah sejarah laki-laki. Buku tafsir yang ditulis perempuan sangat langka. Mengingat tidak pernah ada tafsir yang bebas dari subyektifitas penulis dan konstruksi budaya yang mengitarinya, maka kita patut curiga: Tuhan atau juru bicaranya yang bias jender dan sewenang-wenang?

Bukankah banyak ayat lain yang menegaskan adanya hak yang sama antara laki-laki dan perempuan? Lihat surah al-Hujurat [49]: 13 bahwa hamba yang paling ideal antara laki-laki dan perempuan adalah muttaqîn (orang bertakwa), an-Nahl [16]: 97 bahwa laki-laki perempuan mendapatkan kapasitas penghargaan yang sama sesuai pengabdiannya, al-An’am [6]: 165, al-Baqarah [2]:30 bahwa laki-laki dan perempuan merupakan khalifah di bumi, al-A’raf [7]: 172 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perjanjian primodial dengan Tuhan.

Hadis populer di atas, dari sudut sanad, memang dinilai sahih. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pertama, karena statusnya sebagai hadis ahad (yang diriwayatkan hanya oleh satu mata rantai), yang menurut para ahli hadis, tidak bisa memberikan keyakinan yang penuh atas keotentikannya Kedua, hadis itu baru dikemukakan oleh perawinya Abu Bakrah, seorang diri, kira-kira 23 tahun sesudah Nabi wafat. Selama itu, tidak ada seorang sahabat pun yang diketahui ikut mewartakannya. Ketiga, hadis itu dikemukakan oleh perawi pada saat-saat konflik antara partai Sayyidina Ali r.a. dengan partai Siti Aisyah dan mulai tampak tanda-tanda kekalahan di pihak Aisyah. Keempat, hadis itu dinyatakan oleh Rasulullah SAW, demikian menurut perawi, dalam konteks kekaisaran Parsi yang notabene memang menyimpang dari kebenaran Islam. (Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, Mizan, Jakarta 1997, h. 59)

Pada masa Nabi Muhammad, perempuan mempunyai peranan aktif dalam berbagai kegiatan penting, seperti keikutsertaan mereka dalam delegasi Pembaitan Kaum Anshar pada Nabi, dengan berjanji akan melindungi dan membela Islam. Nabi juga sangat menghargai dan memperhatikan hak-hak perempuan seperti hak seksual, hak bercerai, dan hak mahar, hak waris yang pada waktu itu sama sekali tidak diakui haknya.

Jadi, dengan jelas bisa pastikan bahwa ketika seseorang mencari rujukan pada teks-teks keagamaan, bisa jadi penafsirannya adalah tafsiran mufassir yang relatif dan bukan maksud dari Al-Quran yang autentik. Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting untuk terus menerus mengkaji ajaran agama agar senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roger Garaudy, filsof Islam dari Prancis dalam bukunya Integrismes menolak kekeliruan mematikan tentang Syari’ah sebagai hukum moral Ilahi yang abadi dan fiqih sebagai legislasi manusia yang dirancang untuk menjawab problema-problema setiap zaman yang dihadapi oleh makhluk Ilahi yang selalu memperbaharui diri. (Roger Garaudy:1993).

Hal itu menandakan bahwa, dalam menafsirkan sebuah teks keagamaan tidak ada dan tidak diizinkan untuk mengklaim memiliki kebenaran mutlak dalam penafsiran. Sehingga pemikiran seperti itu tidak terjebak pada sebuah pengakuan sebagai juru bicara yang Tuhan yang paling benar dan menafikkan pandanngan yang lain, padahal hal tersebut didapat menurut kapasitas dan kapabilitas dalam menjangkau makna sebuah teks keagamaan. Wallahu A’lam, Innallaha ma’ana.

*Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidatullah Jakarta

Categories: Uncategorized