Oleh : Muhamad Ismaiel

Melihat konsepsi agamisme sebagai bagian dari fenomena identitas-simbol, agama semakin tidak bisa menolak muatan kompleksitas. Sebuah hasrat besar dalam tragedi, skandal, utopia, optimisme yang terus menarik pergulatan hidup manusia menemukan identitas, mengisbatkan hal ihwal hidup akan sikap keberagamaannya. Dari serangkaian peristiwa, kompleksitas agama tampak terlihat sebentuk keragaman dengan meruntuhkan absolusitas. Bukan kenyataan paripurna yang menghantarkan ke satu titik kulminasi kesempurnaan. Tetapi menampilkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat saja terjadi saat manusia mengaku beragama. Bukan tidak mungkin, realitas agama memuat hasrat meleburkan setiap ”identitas diri” ke dalam struktur “perasaan” dan larut dalam sejumlah pemaksaan bernuansa ilahiah sebagai pemenuhan absolutis. Fanatisme bisa ditarik sebagai bentuk keberagamaan naif yang belakangan ini cenderung memenjarakan agama.

Dalam banyak hal, agama juga telah menginspirasi jamak manusia untuk menyisakan kebuntuan dan peperangan. Pada titik ini, iman didekatkan pada kecenderungan perasaan manusia yang senantiasa dihantarkan pada kedaifan memahamai iman sebagai identitas religius. Konsepsi seperti itu kemudian diklaim sebagai mediasi yang mendapatkan keutuhan. Pikiran dan tubuh rentan dipengaruhi oleh permainan hasrat merengkuh kehidupan asali, dengan melibatkan ”heroisme” paling ekstrim; pembelaan terus menerus terhadap satu keyakinan tanpa mempertimbangkan kemungkinan lainnya.

Agama dalam hal ini tidak lagi memikirkan tentang ruang sosial yang memungkinkan keseimbangan itu terbangun. Sering kali kuasa menyebabkan rasa kolektif menghilang. Pesan keragaman tidak lagi berada dalam kategori menemukan solusi transformatif. Sebaliknya dimaknai dengan hasrat ekspansi. Jadi, dalam realitas tertutup, agama cukup ditampilkan berdasarkan kepentingan tertentu, sejauh dapat membantu menumbuhkan kuasa represifnya. Mungkin dapat dibenarkan; hasrat kekerasan yang terus berkembang, merupakan bagian dari terbelahnya intimitas kesadaran seseorang saat memaknai relasi iman dan realitas sosial. Iman terlihat sebatas bumper hasrat manusia tak berharkat. Menariknya, perjuangan menemukan Tuhan, tak jarang memanfaatkan konsepsi kuasa menjadi sebuah konsespi mengikat. Tidak jauh berbeda dengan memaklumkan kedaifan dalam mentalitas. Di sinilah egoisme sosial sedang dipraktikkan dengan cara memutus jejaring agama dan kehiduapan.

Hasrat Beragama

Merangseknya kuasa ke dalam kehidupan beragama memberikan doktrinasi tentang relasi oposisi. Hasrat beragama, dalam logika kuasa mengharuskan adanya manusia sebagai entitas “penguasa” yang memiliki hak penafsir tunggal. Posisi seperti ini nantinya akan menciptakan kekalahan di pihak lain. Ahmadiyah misalnya selalu merasa terjajah oleh doktrinasi Majelis Ulama Indonesia. Bukan tidak mungkin, kearifan tidak akan pernah muncul, jika agama kerap kali menerima penguasaan berlebihan. Agama dalam hal ini sedang mengalami kerapuhan hidup oleh banyaknya kepentingan kuasa. Hidup tiba-tiba dipaksa menjarak dari tuntutan menemukan keberagaman dalam beragama, lalu mengubah kompleksitas menjadi usang. Manusia tidak lagi larut dengan kegairahan arung kreativitas, malah terhantarkan pada kebangkrutan.

Selanjutnya, kuasa tidak saja menggeser pikiran adanya ruang bersama. Keutuhan hidup manusia berhadapan dengan bahaya represif. Represif dalam arti memaksakan kehendak kuasa sebagai sebentuk agama baru. Kita dapat menunjuk kata represif sebagai kenyataan paling histeris bagaimana kritisisme dibatasi.

Hampir tidak ada lagi ruang integrasi dalam merasakan iman sebagai penumbuh kembangan. Kenyataan terbuka dan kebebasan terdesak ke arah pengremangan sepihak. Sepertinya kuasa manusia menjadi sebuah gerakan baru untuk menguatkan agama dalam arti sempit. Sehingga ruang bersama terpaksa harus teruntuhkan di bawah hasrat egoisme sosial. Pandang agamisme biasanya tidak lagi didasarkan pada relasi integrasi yang kompleks. Keberadaannya sangat lekat dengan bagaimana sebuah keyakinan diciptakan ulang oleh sejumlah kepentingan pada level perebutan menjadi pemakai tunggal agama. Agama senantiasa menjadi korban dari egoisme.

Pada dasarnya benar, persoalan agamisme sebenarnya berada dalam putaran perebutan menjadi yang mayoritas. Dari sini, iman hanya cukup dimaknai sebatas pengakuan ekstase religius, kemudian diproyeksikan sebagai pembenaran banyak hal. Sementara pengimanan dalam bentuk bukti-bukti sosial belum menunjukkan pengharapan integrasi. Bukan sebuah keajegan yang lahir dari upaya agamisasi, jika gerakan teror terus muncul dalam bentuk yang lebih radikal. Sebaliknya, diakumulasi hasrat menguasai.

Persisnya, perang kepentingan dalam memperebutkan tempat dominan menjadi jalinan usaha besar manusia dalam memenangkan perburuan agama. Jika demikian, agama hanya termotivasi oleh kuasa tertentu yang tidak lagi mempertimbangkan integrasi sebagai pengejewantahan nilai seutuhnya tanpa mendasarkan pada hasrat kuasa atau kepentingan lainnya.

Praktis, manusia memasuki krisis agama paling menakutkan. Iman integratif gagal mencapai level sosial dan terlihat berwajah negatif, bertolak dari kebebasan yang semestinya menuntut terjadinya gerak menghidupkan kembali ruang bersama. Krisis ini sangat problematis, karena di saat bersamaan manusia tidak lagi mengenal kontraktual dan transaksional.

Ruang Bersama

Namun, kita tidak bisa membiarkan manusia terlarut dalam kedaifan religius. Hal lain, seperti keteraturan-kedamaian sosial, menjadi perkara teramat penting untuk direnungkan bersama. Kita akan merasakan pemenuhan beragama, justru saat mengimaninya dengan kegairahan mengisbatkan hidup. Artinya, agama tak dapat dipaksakan sebagai sebentuk realitas tertutup. Atau mengekspresikannya ke dalam penistaan dan kehidupan tragis. Sebab, kompleksitas akan selalu mensyaratkan keberagamaan manusia untuk berusaha terus menerus memahami agama. Iman pada yang kompleks, setidaknya meyakinkan manusia bahwa agama tidak saja berdiri di atas keterpukauan metafisis, imaji surgawi. Sebab salah satu kekuatan dari agama, justru bukan untuk menentukan nilai final, melainkan membiarkannya dalam kegairahan. Tidak pada keharusan peneguhan kulminasi universal, tetapi mengupayakan penolakan pada kungkungan egoisme sosial di tengah arung kegamangan.

Agama memerlukan semacam pikiran baru hal ihwal kemanusiaan dan perdamaian. Bagaimanapun, agama bukan entitas mekanik, tapi semacam organik. Agama memberikan strategi penyadaran yang melintasi nilai dan simbol sosial. Kesadaran akan harmoni serta keteraturan sosial merupakan sebuah proses kreatif untuk menemukan keadaban. Akan segera muncul nilai-simbol yang direfleksikan bukan dari luar diri manusia. Namun, senantiasa bergulat dalam mentalitas manusia itu sendiri. Mengkonsepsikan sebuah masyarakat agamis secara otomatis mengharuskan adanya intimitas yang terus menerus direproduksi dari dalam diri manusia ke berbagai jaringan kerja kehidupan.

Karena agama bersifat evolutif sekaligus terbuka atas nilai eksotik, maka produktivitas perlu dimunculkan dari hubungan relasional antara nilai dan nalar manusia yang mendukung terjadinya kreativitas tanpa direduksi. Melampaui sekat-sekat diskriminatif oleh akumulasi kekuasaan atau egoisme sosial. Pada titik ini, rasa beragama sangat penting dimasukkan sebagai suatu proses intimitas untuk mencairkan kevakuman sosial selama ini.

Beragama, paling tidak menginsafi setiap perubahan dan kemajuan sosial akan datang untuk menggeser pemahaman iman yang cenderung ditempatkan sebagai kekuatan pasif. Manusia akan semakin tersadarkan oleh kelekatan iman dengan ruang sejarah, hasrat kemanusiaan serta denyut perubahan peradaban. Dengan demikian, agama memiliki harapan yang dapat dijadikan alasan mendasar atas terbangunnya kesadaran sosial. Dan, menyediakan ruang kolektif yang dapat memainkan situasi sosial, terus berinteraksi saling memengaruhi.

Motivasi seperti ini akan terlihat sebagai keterpahaman manusia terhadap pesan agama. Agama selalu dibutuhkan untuk memikirkan setiap masalah sosial. Mulai konflik dengan kekerasan, diskriminasi, hingga krisis kepercayaan. Di sini iman terasa menawarkan kontrak kesadaran; kesepakatan bersama untuk mencapai sebuah simpulan harmoni dan keteraturan. Yaitu, suatu nilai minimum yang bisa menjamin dan mengarahkan umat manusia menuju masa depan yang harmonis, damai, taat hukum, dan tanpa kekerasan. Suatu norma yang dilandasi oleh tanggung jawab bersama terhadap kehidupan alam semesta. Adalah etika publik-global yang bertanggung jawab terhadap orang lain, lingkungan dan masa depan dunia, serta menjadikan manusia sebagai kriteria dan tujuan. Melirik peluang agama yang secara potensial memungkinkan iman bergerak di lintasan aliran kepercayaan atau agama manapun.

Dalam banyak hal, agama (mungkin) dapat saja berlaku otoriter, menjadi tiran, menciptakan intoleransi, ketidakadilan, isolasi dan seterusnya hingga memusuhi sains, teknologi, industri, bahkan demokrasi. Akan tetapi, agama juga merupakan fenomena universal manusia. Ia adalah dimensi esensial hidup dan sejarah manusia yang tidak mungkin tergantikan oleh kepentingan apapun. Bahwa agama memiliki pandangan ke arah pembebasan manusia ikut menyumbangkan nilai-nilai keadilan, toleransi, solidaritas, hingga menjadi kekuatan etika nir-kekerasan.