Home > Uncategorized > Wanita itu tidak ada!

Wanita itu tidak ada!

Oleh : M. Soleh

Siapa bilang wanita itu tidak ada? Anda tidak akan berani mengatakannya. Perempuan ada di mana-mana. Ia ada kapan saja. Wanita selalu ada dalam benak pria. Pria membutuhkannnya. Itu alamiah. Pria akan selalu berdampingan dengannya untuk mewariskan keabadian, jika ia punya anak darinya. Namun bila ada yang bilang sebaliknya: wanita tidak ada! Pasti anda akan terkesiap. Anda merasa ditipu.

Pastinya ini bukan omong kosong. Memang, wanita itu tidak ada. Mengapa begitu? Ini bukan hal keinginan yang tidak kesampaian atau bertepuk sebelah tangan. Bagi para filsuf, wanita itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia selalu surut. Bersembunyi, atau bermaian dengan penampilan. Ketika ia menampilkan dirinya, ia dengan segera berpunggungan. Ia dengan tutur menggoda, atau paras yang ranum. Itu bukan soalnya. Soalnya adalah ia selalu ingin didekati. Ia ingin dijemput pria. Meski pria selalu tertarik olehnya, wanita selalu menghindar. Ia tidak mau di miliki. Ia ingin selalu dinantikan. Wanita adalah penantian dan penantian itu sendiri. Setiap penantian akan menjadi penantian hanya jika yang dinanti tak pernah muncul. Ia tidak ada. Ia adalah “lubang” atau kekosongan itu sendiri, melansir istilah Lacan, Lack. Karena itu wanita bukan hal yang bisa dimiliki. Wanita menjadi mustahil. Wanita itu abadi, kalau kata Goethe. Dan apa-apa yang abadi selalu menjadi hal ihwal. Karena itu ia tidak ada.

Tentu, ini bukan pandangan misoginis. Sepertinya berlebihan. Wanita memang selalu berlebihan, karena ia adalah “kelebihan” itu sendiri. Jika wanita itu tidak ada, maka citra tentang wanita itu menjadi lebih, excess. Kita tidak bisa memikirkan wanita karena wanita berada di luar pikiran. Wanita tidak bisa dipikirkan. Jika ia ada di dalam pikiran, maka ia bukan ketiadaan lagi.

Mengapa wanita itu tidak ada? Bagi Lacan, setiap keinginan ibu adalah keinginan ayah. Ayah selalu memiliki kekuasaan. Dalam mitologi, “tragedi Oedipus” menjadi asal usul adanya peradaban. Freud pernah mengandaikan bahwa setiap anak selalu cemburu terhadap ayah karena ayah mendominasi ibu. Anak juga membutuhkan ibu. Ia perlu perawatan, kasih sayang, sentuhan lembut, atau gizi air susu. Namun, semua hubungan yang awalnya antara si anak dan si ibu menjadi terpisah. Menghasrati ibu selalu tidak penuh karena perhatian ibu terbagi dengan ayah. Si ayah mengebiri (castration) hasrat si anak. Inses menjadi tidak mungkin. Si ibu yang menjadi objek hasrat bagi si anak menjadi hilang.

Ayah kemudian menjadi Big Other dalam masyarakat yang memerintah sepenuhnya hasrat si ibu. Bisa dimengerti jika setiap kekuasaan atau “ayah” mempertahankan efektifitasnya dengan melarang atau menegakkan hukum. Tidak ada masyarakat tanpa kekuasaan yang disimbolkan oleh ayah. Karena itu di mana ada hukum di situ tidak ada wanita, dan transgresi terhadap hukum adalah sesuatu yang tidak mungkin: bisa di anggap menyimpang, abnormal, sakit, atau gila. Barangkali manusia alamiah yang dilandaskan pada survive dan mencari order, dengan niscaya telah selalu mengeksklusi setiap kemungkinan wanita untuk muncul. Wanita selalu ditindas. Wanita masih tersimpan.

Tidak aneh jika Oedipus adalah kisah tragis. Oedipus harus “membutakan” matanya, setelah bersebadan dengan ibunya sendiri . ia juga menjadi penyebab ibunya menjanda. Mencari wanita sama saja tidak mencintai mata sendiri, karena bertemu wanita akan membutakan mata kita. Cerita yang telah berusia dua millennium itu kiranya tetap relevan kenapa wanita selalu terpinggirkan: karena kita masih perlu mata kita. Tanpa mata, kita tidak bisa mengetahui, dan semakin tahu kita menjauhkan wanita. Ia selalu jauh, tapi ia tetap melambaikan tangannya, memanggil, untuk mendekatinya, kendati itu tidak mungkin. Karena ia tidak ada, kita terus menantinya, meski ia memang tak pernah akan datang. Sapaannya “sore” itu menjadikan kedatangannya hanyalah sebatas janji.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Kini bergiat di Forum Mahasiswa Ciputat

Categories: Uncategorized
  1. didiahmadi
    April 24, 2008 at 8:52 am | #1

    jika si ayah adalah big other yang bisa dianalogikan Barat dalam kajian pascakolonialisme, maka si ibu, istri, artuinya juga wanita, adalah timur.
    karena wanita itu tidak ada, maka timur dapat kita artikan tidak ada?
    lantas, apa makna dari ungakapan kita adalah manusia berbudaya timur dan sebagainya itu? jangan bilang itu representasi ya…

  2. aceng husni
    April 25, 2008 at 6:45 am | #2

    Ro…tulisan Soleh inilah yang harus dibaca sebagai reprersentasi lingkungannya kini. Tulisan itu, seperti gambaran dirinya. semoga…..?

  1. No trackbacks yet.