Ahmadiyah
Oleh: Testriono
Penulis Skenario Film, Aktif di Formaci
“Rasa hormatku kepada keyakinan yang lain, sama besar seperti kepada
keyakinanku sendiri,” ujar Gandhi suatu ketika. Tapi di sini, di
negeri yang semestinya menjamin kebebasan beragama, sikap ini justru
harus diperjuangkan, sesungguh-sungguhnya.
Di bulan ini sebuah agama, mungkin tepatnya aliran, dilarang oleh
Bakor Pakem: Ahmadiyah. Kita tak tahu, wahyu manakah yang mereka
gunakan untuk membubarkan sebuah iman. Yang pasti, maklumat itu
lahir dari sejumlah fikiran, juga nurani, yang tak bisa melihat
perbedaan itu sebagai iradah: sebuah kemestian sejarah.
Allah, Tuhan yang Esa itu, memang dipuja dengan cara yang beragam.
Setiap individu, kelompok, bahkan sekte, memiliki cara tersendiri
yang kerap berbeda, namun mereka yakini mujarab (“benar?”) untuk
bisa sampai pada Tuhan dan merebut kasih-Nya. Tapi di tanah ini,
berbeda bisa berarti kesalahan, sesat, dilarang, dan kemudian
diberangus.
Awalnya saya ingin menulis esai ini dengan kemarahan dan kegeraman
yang menggebu; tapi kemudian saya tersadar: apa lantas bedanya saya,
jika demikian, dengan orang-orang beringas, namun berjubah dan
bersorban, yang mengangkat kayu dan pentungan, sebagian juga mungkin
parang, sembari meneriakkan nama Tuhan, untuk memaksakan kehendak
(“iman?”) di hadapan sebuah kelompok kecil yang “dicap” sesat?
Ahmadiyah, di negeri ini mereka adalah sejumlah suara minor: satu
dari belasan atau mungkin puluhan sekte dalam Islam dengan beberapa
butir keyakinannya yang memang berseberangan dengan mainstream,
hadir untuk sekadar menawarkan “jalan lain” menuju Tuhan. Bukan
dengan acungan senjata dan teriak takbir, tapi mungkin ajakan halus
dan hangat yang nyaris tak bergema.
Tapi kebencian, yang sejatinya tak memiliki jejak pada sejarah
kenabian, dan mendasarkan dirinya hanya pada firman Tuhan yang
diambil sekenanya, mampu membakar fikiran awam yang memang mudah
disulut untuk sebuah purifikasi bersemangatkan “jihad”. Sang
mainstream, yang disuarakan oleh sekelompok kecil elite—mungkin
habib, kyai, atau ustad yang fasih melafalkan ayat-ayat kitab suci,
juga fasih mengumpulkan barisan massa yang siap bergerak dengan
sejenis vandalisme atas nama Tuhan. Yang mengerikan, dengan akses
pada kekuasaan dan aparat hukum, mereka yang menampik perbedaan bisa
berteriak lantang dan terang-terangan menyalakan api permusuhan dan
kebencian dengan aman dan terlindungi. Tapi mereka yang ditengkari
dan dibencilah, yang justru digugat dan diminta membubarkan diri
seolah mereka demonstran jalanan yang mengacau dan anarki.
Intoleransi tak pernah jadi bagian dari risalah Muhammad yang telah
berumur 14 abad lebih. Saya percaya Nabi al-Amin itu datang demi
sebuah ajaran yang mengajak manusia untuk menebar benih kasih sayang
kepada semesta. Saya percaya, Alquran dan semua kitab suci
menganjurkan kedamaian dan kerukunan. Tapi intoleransi, bisa hadir
kapan saja dan di mana saja, ketika negara yang seharusnya
melindungi warganya, bersembunyi di bawah ketiak “politik pesona-
diri” yang takut dan cemas kehilangan dukungan dari mayoritas.
Intoleransi beranak-pinak ketika yang “tegas”, karena pahit dan
penuh ancaman, begitu sukar kita dapati. Negara menjadi penting;
tapi naasnya, bagaimanakah kita mesti berharap pada negara yang
laksana macan tak bertaring ini?
Saya masih tidak mengerti bagaimana caranya membubarkan iman. Ketika
Nabi merasa begitu sedih dan bersalah melihat paman terdekat yang
paling mengasihi dan melindunginya, Abu Thalib, wafat di saat masih
dalam keadaan kafir, Tuhan dalam Surat al-Qashash ayat 56 justru
berkata: “Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk
kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-
orang yang mau menerima petunjuk.”
Wajah buruk intoleransi, tampil dalam sikap konfrontatif terhadap
semua yang tidak sependapat dengannya: itulah ayat-ayat (tanda-
tanda) fundamentalisme yang memang seperti “virus” yang tak pernah
bisa mati. Ia mengganas manakala masyarakat, demikian Olaf Schumann
dalam Keluar dari Benteng Pertahanan, menunjukkan gejala sosial yang
tidak sehat, di mana orang kehilangan orientasi dan pegangan hidup.
Artinya, fundamentalisme terlihat memukau ketika iklim sosial yang
tidak memuaskan begitu terasa, sehingga mereka yang menderita
memercayainya dengan sejumput asa: akan datang suasana hidup yang
lebih baik. Ringkasnya, fundamentalisme memang berakar pada soal-
soal sosial-ekonomi.
Maka, pengikut fundamentalis sebenarnya mereka yang frustasi pada
masa kini. Sehingga imaji tentang masa lampau begitu bergelora, tapi
bukan sejarah yang termaktub secara ilmiah, melainkan bayangan
mereka sendiri tentang masa silam itu: sejenis utopia.
Pada Gandhi kita bercermin. Ketika ditanya, “Bila hanya ada satu
Tuhan, tidakkah seharusnya hanya ada satu agama saja?” Gandhi
menjawab dengan kiasan yang mungkin masih bisa diperdebatkan, tapi
layak kita simak: “Sebatang pohon punya sejuta daun. Ada banyak
agama sebagaimana ada banyak pria dan wanita, tapi semua berakar
kepada Tuhan.”
Islam, beranalog pada kiasan itu, mungkin ibarat sebuah pohon dengan
puluhan, ratusan, bahkan jutaan daun aliran dan sekte. Tuhan yang
Esa ibarat sebuah rumah yang bisa kita masuki dari pintu-pintu—
mungkin ini salah satu yang hendak disampaikan Cak Nur lewat bukunya
Pintu-pintu Menuju Tuhan—yang bertebaran di sekelilingnya: Sunni,
Syi’ah, Ahmadiyah, Wetu Telu; NU, Muhammadiyah, Persis; bahkan
Islam, Kristen, Hindu, Yahudi. “Tuhanlah yang memiliki kita,
sehingga kita tak bisa memagarinya dan mengurungnya hanya pada satu
pintu semata,” ucap Wesley Arirajah sebagaimana dikutip Goenawan
Mohamad. Kebebasan manusialah yang menentukan pintu mana yang akan
dipilihnya.
Tapi sialnya, di tanah ini, meski kekuasaan otoritarian telah lama
punah, namun kebebasan bisa dibajak dan dimonopoli oleh sejumlah
orang, sebagiannya pendakwah, yang berbicara atas nama iman yang
mayoritas. Mereka, atas nama kolektivitas, cuma ingin ada satu jalan
tunggal menuju Tuhan. Dus, kebebasan, di negeri Pancasila ini,
memang bukanlah takdir: ia adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
Mereka yang beriman dalam kebencian, sesungguhnya menempatkan Tuhan
di singgasana yang teramat jauh nan tinggi; karena tak ada ruang
dalam hatinya bagi Tuhan untuk bersemayam dalam cinta. Mereka resah
dan gelisah ketika melihat orang lain, atau kelompok, mencoba
menghampiri singgasana itu dengan cara dan laku yang berbeda.
Sementara mereka yang mengimani Tuhan dengan cinta, menempatkan
Tuhan dalam hatinya: begitu dekat, begitu intim, hingga tak
menyisakan peluang bagi kebencian.
Masalah Ahmadiyah bukanlah masalah kebebasan berkeyakinan atau kebebasan HAM. Yang diinginkan umat Islam adalah menolak mengakui Ahmadiyah sebagai bagian dari umat Islam. Ahmadiyah boleh berdiri tapi harus sebagai agama tersendiri dan tidak boleh mengotori atau merusak agama yang sudah ada yaitu Islam. Misalnya Kristen mengakui kitab Taurat tapi Kristen telah berdiri sendiri menjadi agama non Yahudi. Islam mengakui Taurat dan injil tapi Islam tidak mengaku sebagai Yahudi atau Kristen. Begitu juga Ahmadiyah, walaupun mereka mengakui AlQuran sebagai kitab dan Muhammad sebagai Nabi tapi karena mereka sudah memiliki kitab baru dan nabi baru maka hendaknya mereka juga harus mau menjadi agama baru dan jangan pakai kedok Islam untuk merusak Islam.
Budi yang baik hati,
Menjadi agama baru, tidak menyelesaikan masalah. Keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan. Ia mau menggunakan Islam, kristen, atau apapun, kita tidak tahu. Kalo dia yakin bahwa mereka bagian dari Islam, kita harus hargai.
Hingga kini belum ada bukti bahwa mereka ingin merusak Islam. merusak artinya membuat Islam menjadi kacau kan? bila benar mereka ingin merusak, kenapa ga dari dulu? mereka Ada di Indonesia bahkan sebelum Budi lahir. Mereka hanya meyakini apa yang menjadi hasil tafsiran mereka. Bedakan dong antara Ahmadiyah dengan Wilders ketika membuat film “fitna.” Ia dengan sengaja ingin mempropaganda masyarakat Belanda agar benci Islam. Sementara, jamaah Ahmadiyah tidak ada bukti melakukan itu. Mereka tidak sedang menodai, mereka hanya sedang berbeda keyakinan tentang konsep kenabian.
Justru bukti-bukti mengarah bahwa orang Forum Ummat Islam lah yang memakai kedok Islam untuk merusak Islam. mereka hancurkan mesjid Ahmadiyah. itu bukti kriminalitas. Emang ada ajarannya apa merusak mesjid? Mereka itulah yang tak beda dari gambaran Willders: Islam kejam.
Mas yang berhak menuentukan sipulan sesat dan si pulan tidak sesat ini wewenang siapa?emangnya Islam itu kepunyaan siapa? MUI kah,HTI kah,FUI kah? Kapan dia dapat mandat dari Allah SWT untuk mengeluarkan orang lain dari Islam?
ahmadiyah itu seperti abdullah bin salam yang berusaha untuk menghancurkan islam dengan faham syi’ahnya nah kemudian berabad-abad setelah itu datanglah sang utusan iblis dengan mengatasnamakan nabi untuk kembali berulah untuk merusak ajaran islam yang fitrah dengan nama Mirza Ghulam Ahmad. Menurut saya Ahmadiyah itu apabila tidak mencatut nama Islam seperti misalnya menggunakan nama Agama Ghulam atau Agama Mirza itu tidak menjadi masalah. Dan umat ISlam di Indonesia tentu tidak akan mempermasalahkannya tapi ini masalah pelanggaran syariat maka tentu saja akan mendapat penolakan-penolakan
Heriawan, boleh ga Anda memberikan elaborasi yang lebih panjang disertai dengan bukti-bukti yang valid. Kalau komentarmu yang ini sih, persis kayak preman berjubah….
bung Heriawan ini bukan gubernur terpolih Jawa Barat kan? oke. saya ingin menambahkan alasan jika Ahmadiyah menjadi agama baru sama sekali tidak menyelesaikan amslah. jika Ahmadiyah jadi Agama baru, lalu mereka Shalat lima waktu dengan tata cara yang sama persis dengan yang praktekan Islam pada umunya, bukankah mereka akan kena pasal “karet” penodaan agama. dan begitu seterusnya dengan Zakat, Puasa, dan Haji. Ahmadiyah akan tetap menjadi bulan bulanan FPI, FUI, MUI dan kawan-kawannya.
kemudian, saya heran selalu saja Ahadyah ditudin merusak Islam, pandangan ini sama sekali tidak jelas. gagasan ini bagi saya MITOS. yakni, pandangan yang dihembuskan seolah realitas beneran melalui media yang belum. Ahmadiyah hanya sebentuk keyakinan. adakah bukti bahwa keyakinan itu untuk meruntuhka Islam?
kemudian saya membayangkan seandainya idak ada pemeluknya, sebuah agama tidak akan ada. jadi islam hanya sejauh ada karena ada pengikutnya. jadi, yang berhak atas islam tidak mngkin sebagian saja, tapi keseluruhan penganutnya.kalo dalam islam banyak warnannya, ya sudah iula Islam. saya teankan, hal itu beda dari Wilders yang memang ingin menyerang Islam. bedakan dong…!!!! anak SD juga bisa membedakan ini.
sori salah-salah ketiknya. tapi pahamkan maksudk?
thanks
core
masaalah hidup ini semakin besar saja. apalagi kehidupan di dunia belahan indo ini. seakan seperti neraka yang orang bilang sesak -panas dan apek itu. ya kaya itulah gambaran Indonesia sekarang-sekarang ini. jalan-jalan semuanya di penuhi oleh “binatang-binatang” yang tidak enak baunya.
Tenang tenang mereka yang memusuhi ahmadiyah sebenarnya juga tahu kalau tingkah laku orang-orang ahmadiyah baik ibadah maupun perbuatannya sangat islami. Mereka itu cemburu kenapa enggak bisa seperti orang ahmadi dalam berislam menimbulkan ketenangan dan kekhusyuan yang dalam. Mereka itu cinta sama ahmadiyah saking cintanya karena malu mengakuinya jadi timbulnya benci.
diskusi seru yg menarik