Sketsa Konsili XXI Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
Oleh: Sukron Hadi
Sabtu 7 Februari 2009, kami, 60 anggota Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dari berbagai generasi bersuka ria menikmati perjalanan menuju pantai Carita untuk mengadakan Konsili yang ke 21. Enam puluh adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan anggota Formaci yang sebenarnya, yang pernah aktif di forum diskusi ini, dari tahun berdirinya 1986, sampai 2009 ini.
Meski dalam perjalanan kami didera berbagai cobaan; jadwal keberangkatan yang molor, mobil mogok dua kali, salah rute dan cobaan lainnya, namun kami tetap bersuka ria, bernyanyi, tertawa lepas dalam bis Langgeng Jaya. Ya, berbagai cobaan tak mengusik semangat untuk menyelenggarakan konsili yang tertanam kuat di dalam dada kami.
Sekitar pukul 15.30 kami sampai di cottage yang disediakan senior kami, TB. Ace Khasan Sadzali, beliau menyewakan dua cottege di pantai Carita untuk kegiatan Konsili. 5 jam perjalanan tak membekaskan lelah pada kami, setelah menaruh perbekalan di dalam cottege, kami langsung bermain sepak bola, bernyanyi bersama, main kartu, bercanda tawa-lepas, di bibir pantai.
Malamnya, sambil menunggu kedatangan para senior yang bersedia hadir, kami isi waktu dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Pukul 20.00 telah lewat, namun senior yang sedianya akan hadir pada acara Konsili, karena berbagai halangan dan alasan mereka tidak jadi hadir; Saiful Mujani, Pak Jajat, Budhy Munawar Rachman, Ikhsan Ali Fauzi, Neng Dara Affiah, Nong Darol Mahmada, Mukhlis, Yuni, Merhan, Burhanuddin Muhtadi, Anick HT, Fauni, Ray Rangkuti, dll. mereka tidak jadi hadir, hanya Ka Tasman beserta istri yang bisa hadir.
Pukul 20.30 acara Konsili dibuka, diawali dengan acara ramah tamah yang padat dengan suara derai tawa lepas. Kemudian disambung dengan Laporan Pertanggung-Jawaban Imam periode Formaci 2007-2009, Evi Rachmawati, yang mau turun jabatan. Kemudian disambung dengan evaluasi kegiatan Formaci dan evaluasi terhadap anggota Formaci aktif periode kepemimpinan Evi Rachmawati, dari kekurangan, sampai keunggulan, juga permasalahan internal, eksternal anggota Formaci aktif, kritik pedas, tantangan ke depan Formaci sebagai forum diskusi, permasalahan diskusi dll. Meskipun acara kedua dan ketiga tersebut serius tapi unsur ceria dan tawa selalu hadir untuk mengimbangi ketegangan.
Sedianya acara konsili akan diselesaikan sampai pagi suntuk, seperti nonton tanggapan wayang kulit, namun berhubung dua sejoli Thowik dan Byah sudah membeli ikan untuk dibakar dan jika tidak dibakar secepatnya 50-an ekor ikan akan membusuk, acara konsilipun pada pukul 01.00 WIB terpaksa dibreak sampai pagi demi ikan bakar. Dan kami pun berpesta membakar ikan ditemani angin laut dan suara debyur ombak sampai pagi. Di tengah pesta bakar ikan Ka Ace Khasan Sadzili hadir menyambangi kami.
Paginya kami terkapar kelelahan, tidur. Acara konsili yang belum selesai membuat kami tidur hanya beberapa jam. Pada pukul 10.00 acara konsili dilanjutkan, yakni acara membahas apa yang harus dilakukan anggota Formaci aktif dan Formaci sebagai organisasi diskusi. Dalam pembahasan ini banyak sekali tawaran dan tantangan yang harus dijalankan Formaci ke depan dan dalam pembahasan ini muncul perdebatan apakah kepemimpinan Formaci ke depan memakai Imam atau Presidium.
Imam adalah gelar yang disandang seseorang formacian yang terpilih melalui pemilihan oleh kami, anggota Formaci peserta Konsili. Tradisi kepemimpinan seperti ini adalah warisan dari pendiri Formaci Ikhsan Ali Fauzi, Saiful Mujani dll. kepemimpinan ini terpusat pada satu orang yang demokratis dan dianggap paling unggul di antara anggota aktif Formaci lainnya. Seluruh persoalan Formaci secara formal ditanggungjawabi oleh satu orang Imam.
Tawaran kedua adalah sistem Presidium, yang mana kepimimpinan Formaci terpusat dan ditanggungjawabi oleh tiga orang yang mengurusi tiga pos keformacian; pos diskusi, administrasi dan luar negeri. Kepemimpinan Presidium bukan hal yang baru dalam sejarah Formaci, sudah berkali-kali digunakan di Formaci.
Memakai di antara dua sistem tersebut bukan pilihan yang kaku, adalah hal yang mana suka, sesuai kebutuhan, dan merupakan hasil kesepakatan bersama Formacian peserta Konsili. Perdebatan memakai sistem kepemimpinan yang seperti apa, pada Konsili ini cukup tegang. Dari yang membela kepemimpinan Imam berargumentasi bahwa pada kepemimpinan memakai Imam pun pembagian tiga pos yang ada di sistem Presidium tetap ada, kenapa harus pakai Presidium? Gitu aja kok repot?.
Sedangkan dari pihak yang mengusung Presidium berargumentasi bahwa sistem Presidium lebih efektif untuk konteks kondisi anggota Formaci kini dan mengacu pada ketidak-efektifan sistem Imam sebelumnya, yang dipegang oleh anggota Formaci yang tidak tinggal di basecamp Formaci. Maka yang diperlukan memimpin dan mengurusi Formaci adalah “orang dalam” yang dalam usia aktif dan tinggal di Formaci, namun karena di antara anggota aktif tidak ada yang lebih menonjol di antara lainnya, maka sistem Presidium sangat efektif yang membagi tanggung jawab keformacian ke tiga orang anggota aktif yang tinggal di Formaci. Sistem Presidium bukan berarti mendefinisikan anggota Formaci aktif tidak ada yang kompeten menjabat sebagai Imam, namun poinnya adalah masalah keefektifan kepemimpinan yang diperlukan untuk konteks Formaci saat ini.
Adu argumentasi tersebut memakan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya, karena argumentasi mereka yang mengusung Presidium, lebih sedikit kuat dibanding argumentasi mereka yang mengusung Imam, dan karena mayoritas anggota aktif lebih setuju dengan sistem Presidium, maka diputuskan bahwa kepemimpinan Formaci untuk periode 2009-2010 menggunakan sistem Presidium.
Setelah pembahasan “apa yang harus dilakukan Formaci ke depan” selesai, kemudian kami masuk ke acara inti yakni pemilihan Presidium Formaci periode 2009-2010, dengan menggunakan sistem pemilihan langsung, bagi setiap peserta Konsili mengusung tiga nama calon Presidium. Dari hasil pemilihan tersebut diputuskan tiga nama terpilih, yakni M. Irsyad menjabat sebagai Presidium I, Sukron Hadi menjabat sebagai Presidium II, dan M. Ismail sebagai Presidium III.
Setelah itu, menginjak ke acara yang dramatis, yakni penyerahan tanggung jawab kepemimpinan Formaci secara simbolik oleh kepemimpinan lama, Imam 2007-2009, Evi Racmawati kepada kepemimpinan baru; Presidium 2009-2010; M. Irsyad, Sukron Hadi dan M. Ismail.
Dalam kata sambutan, ketiganya mengatakan; Jabatan yang kami sandang mengandung tanggung jawab yang berat, dan demi kebaikan Formaci, kami harap teman-teman Formaci sekalian membantu kami membawa Formaci ke arah yang lebih baik. Setelah ketiganya selesai mengutarakan kata sambutan, acara konsili pun secara formal ditutup, tepat pada pukul 13.30 WIB.
Dalam jadwal acara tercatat, pulang ke Ciputat pukul 16.00. Untuk menunggu waktu pulang kami manfaatkan alam pantai Carita dengan bersuka ria; bermain sepak bola, naik bananna boat, main kartu, bernyanyi bersama-sama dan aktivitas menyenangkan lainnya. Namun suka cita tersebut tidak menenggelamkan harapan kami; semog dalam kepemimpinan yang baru ini, Formaci sebagai penjaga gawang tradisi intelektualitas di Ciputat, terus menjadi yang terbaik dan berkualitas, bahkan lebih, harap kami.
selamat atas suksesnya konsili formaci yang ke 21.. semoga para presidium mampu membawa formaci menjadi lebih baik. salam
terima kasih
semangat ya buat para presidium terpilih….kalian adalah terbaik diantara yang baik….
ah, ga segitunya. ga ada yang lebih dari kami selama all of mebers of formacian masih jalan beriringan. termasuk km. thanx
Sebetulnya sebutan imam hanya istilah sederhana bagi orang yg memimpin formaci, tidak mengacu kepada pengertian yang tersebut di atas . Soalnya kami angkatan 80 an adalah pengagum ayatullah khomaini dan revolusi iran. Juga pemikiran para intelektualnya seperti Ali Syariati dan Murtadza Muttahari. Jadi pengertiannya tidak bisa dikontrakan dengan presidium