Merah Putih; Sebuah Pesan Akan Pentingnya Persatuan
Tanggal rilis : 13 Agustus 2009 (INA)
Genre : action
Durasi : 108 menit
Sutradara : Yadi Sugandi
Pemain : Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Zumi Zola, Saraswati
Produksi : PT Media Desa dan Margate House
Peresensi: Sukron Hadi, Pegiat di Forum Mahasiswa Ciputat [FORMACI]
“Priyayi melawan Petani, Jawa melawan Sulawesi. Siapa yang menang?! Belanda!!!.” Pekik Soerono (Zumi Zola) menghentikan pertengkaran antara Marius dan Thomas.
Di atas adalah sepenggal adegan dalam film “Merah Putih,” sekuel pertama dari trilogi Merdeka. Adegan di atas menggambarkan konflik latar belakang kesukuan, agama dan status yang mewarnai sekolah calon Tentara Rakyat Indonesia yang berada di Jawa Tengah.
Film ini berlatar Indonesia tahun 1947, pasca-kemerdekaan. Di mana saat masa tersebut pemerintah Belanda berharap untuk menguasai Indonesia kembali, namun mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Sehingga Belanda pun melakukan agresi di berbagai wilayah di Indonesia untuk membasmi pejuang kemerdekaan.
Marius (Darius Sinathrya) adalah salah satu dari 25 calon tentara yang telah mendaftarkan diri untuk dilatih menjadi tentara di Sekolah Tentara Republik Indonesia. Dia yang berlatar belakang priyayi muslim dari Batavia dan lulusan Universitas dengan sifat angkuhnya menebar permusuhan dengan salah satu calon tentara lainnnya, Thomas (Dony Alamsyah) yang berlatar belakang petani atau peternak ayam dan seorang pemeluk Kristen dari salah satu desa di Sulawesi Utara. Sikap Marius berbeda jauh dengan sahabatnya, Soerono yang juga seorang priyayi terdidik. Ia mampu bersikap arif dengan menghargai segala perbedaan demi pencapaian tujuan bersama untuk mengalahkan tentara Belanda.
Sedangkan calon tentara lainnya, Amir (Lukman Sardi), seorang muslim taat yang berlatar belakang guru, juga berbeda dengan Marius, ia sangat toleran terhadap segala perbedaan. Begitu juga dengan Dayan (T. Rifnu Wikana) pemuda pendiam dan sopan dari Bali yang beragama Hindu, dia sangat toleran menyikapi segala perbedaan latar belakang yang berbeda-beda dari teman-temannya di sekolah militer tersebut.
Namun akhirnya, sikap menanam kebencian terhadap perbedaan tersebut terasa tidak ada artinya lagi ketika kamp pelatihan mereka di serang tentara Belanda. 25 tentara baru tersebut dengan tanpa pengalaman, mental yang belum teruji dan kemampuan yang belum teruji sekuat tenaga mempertahankan diri dari serangan tentara Belanda yang berjumlah jauh lebih banyak yang dipersenjatai persenjataan yang lebih canggih. Serangan tersebut menewaskan sebagian besar tentara-tentara Indonesia. Dan yang tersisa hanya empat tentara: Amir, Thomas, Dayan dan Marius.
Keempat tentara tersebut berjuang melawan maut dari kejaran tentara Belanda sembari berusaha melindungi penduduk desa dari kekejaman tentara Belanda. Sembari bersembunyi, mereka menyiapkan strategi untuk melawan penjajah.
Proses Penggarapan Film Yang Ambisius
Dalam film yang talah diputar di jaringan bioskop 21 dan Blitz Megaplex sejak 13 Agustus lalu ini kelima aktor yang memerankan tokoh utama, bermain cukup maksimal. Kelima-limanya, kecuali Lukman Sardi, menampilkan kemampuan mereka berakting yang matang. Sehingga karakter tokoh yang dibawakan mereka masing-masing mampu menghidupkan alur cerita yang terlalu sederhana dalam film ini.
Kualitas tata rias dan tata letak seting film serta perlengkapan perang dari kostum sampai persenjataan dalam film ini cukup meyakinkan dalam menggambarkan suasana perang. Bahkan bisa disebut cukup berkualitas. Tidak hanya itu, film ini juga berhasil menampilkan efek gambar dan efek suara ledakan senjata dan baku hantam, meski ada beberapa cacat yang masih berceceran, seperti mayat yang telihat perutnya kembang-kempis, darah yang keburu memuncerat dari mulut sebelum popor menghantam muka.
Untuk menciptakan film ini, PT. Media Desa dan Margate House mendatangkan ahli film professional dari dalam negeri maupun luar negeri. Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi yang sebelumnya sebagai penata gambar mensuksekan film Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari untuk Selamanya, dan The Photograph.
Dan juga yang mencengangkan pihak Margate House memboyong ke Indonesia beberapa profesional yang sukses menangani film-film Hollywood untuk menggarap film ini. Connor Allyn dan Rob Allyn dipecaya untuk menjadi produser eksekutif dan menulis skenario film ini. Adam Howarth, koordinator special effects yang pernah menangani “Saving Private Ryan” dan “Blackhawk Down”, Rocky McDonald, koordinator stuntman yang menangani “Mission Impossible II” dan “The Quiet American”, Rob Trenton yang menangani make-up dan visual effects (“The Dark Knight”), John Bowring, konsultan ahli persenjataan (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins: Wolverine), dan Mark Knight sebagai asisten sutradara (December Boys,Beautiful). Mereka sengaja didatangkan untuk menciptakan sebuah film kemerdekaan yang dibungkus dengan gaya Blockbuster. Tak ayal untuk menyelesaikan sekuel trilogi ini membutuhkan dana Rp. 60 Milyar, sebuah angka yang fantastis.
Namun film ini secara keseluruhan belum bisa disebut sebagai film bertema perang yang sangat berkualitas yang bisa disaingkan dengan film bertema perang Hollywood. Sebut saja “Defiance” dan “Letters of Iwo Jima” dua film Hollywood bertema perang yang mampu menyajikan ketotalan dari berbagai sisi film.
Film Merah Putih dari sisi cerita terlalu sederhana dan belum mampu menangkap suasana perang melawan penjajahan di sebuah negeri bernama Indonesia, karena bagian pertama trilogi film kemerdekaan ini hanya berkonsentrasi pada satu tempat: Sekolahan Tentara Rakyat Indonesia dan lingkungan sekitarnya. Dan terlalu lebih menyajikan kehidupan pribadi dan hubungan antar lima tokoh tersebut untuk ukuran film berdurasi dua jam yang berambisi menampilkan perjuangan melawan penjajahan.
Di film ini, kita tidak disajikan sedikitpun suasana yang menggambarkan kondisi sosial, ekonomi dan politik di negeri Indonesia pada masa 1947, yang sebenarnya penting dihadirkan dalam sebuah film sejarah. Suasana politik tersebut hanya dilukisan melalui text prologue di awal film ini, dan itu belum cukup menangkap suasana. Semoga di sekuel berikutnya akan dsajikan lebih matang.
Membangkitkan Rasa Nasionalisme
Meskipun demikian, di tengah maraknya film-film horor, komedi romantis, romansa islami dan tentang kisah remaja yang telah merajai layar lebar Indonesia saat ini, film “Merah Putih” memberi nafas segar bagi perfilman Indonesia dan juga mengobati kerinduan masyarakat Indonesia yang lama tidak disambangi film perang perjuangan untuk kemerdekaan.
Tidak hanya itu, film ini juga cukup menumbuhkan rasa nasionalisme. Gemuruh tepuk tangan dan pekik “merdeka” terlontar dari sebagian penonton setelah lampu teater bioskop 21 Blok M di mana penulis menonton film ini, menyala.
Bagaimana tidak, penonton disajikan pembantaian seluruh warga perkampungan oleh tantara Belanda secara klise dan dramatis dan beberapa kekejaman lainnya. Dan juga aksi heroik yang dilakukan empat tentara yang tersisa dengan persediaan senjata modern yang terbatas, dengan bantuan belasan warga desa dari orang tua sampai anak kecil dengan bersenjatakan senapan dan sebagian besar bersenjatakan parang, arit dan bambu runcing karena dengan semangat kemerdekaan yang berkobar-kobar dan strategi yang matang mereka mampu mengalahkan satu pasukan tentara Belanda yang membawa tangki bensin ke satu markas, meski jumlah tentara Belanda jauh lebih banyak.
Sisi dramatis, mengharukan dan sarat muatan pesan dalam film ini adalah rasa nasionalisme dan kebhinekaan yang tertanam dalam hati dan sikap para tentara Indonesi telah melampaui pertentangan perbedaan latar belakang, suku, status dan agama, demi satu tujaun bersama: merdeka!. Suatu sikap yang harus kita pupuk pada diri kita yang hidup pada masa sekarang yang mendapat buah kemerdekan dari para pejuang-pejuang kita, supaya konflik kesukuan, agama dan kepercayaan tidak lagi menodai kerukunan bangsa kita.()
Recent Comments