Oleh Muhammad Hanifuddin

Aktivis kajian filsafat FORMACI (Forum Mahasiswa Ciputat) Mahasiswa Fakultas Dirasat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sumber: Perada Koran Jakarta 28 September 2010

Judul : Sjahrir; Peran Besar Bung Kecil
Penulis : Bagja Hidayat dkk
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta
Tahun : I, September 2010
Tebal : xx + 222 halaman
Harga : Rp 45.000.00

Dalam sejarah Indonesia, Sutan Sjahrir adalah eksponen utama garis ideologis perpaduan antara tradisi sosial demokrasi dan liberalisme. Sebagai seorang demokrat, ia merupakan tokoh pergerakan buruh yang andal pada 1930-an.

Sjahrir juga menaruh perhatian besar terhadap masalah pendidikan rakyat. Liberalismenya terlihat antara lain dari perhatiannya terhadap masalah hak-hak individu rakyat kecil dari tirani kolonial.

 

Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 5 Maret 1909 dari keluarga yang pro-Belanda. Ayah dan kakeknya adalah pegawai elite Angku Jaksa Belanda.

Latar belakang keluarga menjadikan Sjahrir kecil tidak begitu anti pada Belanda, bahkan kurang menyukai pergaulan dengan para pemberontak pribumi. Sejak kecil Sjahrir mendapatkan pendidikan dari bangku sekolah yang didirikan oleh Belanda.

Di usia enam tahun masuk Europeesche Lagers School (ELS), lulus pada 1920, melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Setelah menamatkan MULO, pada 1926, Sjahrir berlayar ke Jawa untuk mendaftar di Algemene Middelbare School (AMS) Bandung.

Di kota Kembang inilah nasionalisme Sjahrir tumbuh. Bermula tatkala ia mendengar pidato Dr. Tjipto Mangunkusumo mengenai semangat kebangsaan. Sejak itu, Sjahrir aktif dalam perkumpulan Pemuda Kebangsaan dan ikut memprakarsai berdirinya Jong Indonesie dan majalah Perhimpunan.

Semangat nasionalisme Sjahrir semakin kuat sekembalinya dari studi selama tiga tahun di Universiteit van Amsterdam. Ia mengobarkan semangat kemerdekaan melalui Partai Pendidikan Nasional yang lebih dikenal dengan PNI Baru.

Sebagai risiko perjuangan, pada Februari 1934, Sjahrir ditangkap dan dibuang oleh kolonial Belanda ke Boven Digul, Papua. Selang beberapa tahun, dibuang lagi ke Banda Neira, Maluku.

Masa pembuangan menempa kematangan diri Sjahrir sebelum kelak memimpin Indonesia sebagai Perdana Menteri. Jalur diplomasi adalah pilihan perjuangan Sjahrir.

Salah satu capaian gemilang, pada 14 Agustus 1947, Sjahrir berhasil meyakinkan dunia internasional melalui pidatonya di Sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Succes, Amerika Serikat.

Surat kabar berpengaruh di Paman Sam, New York Herald Tribune, menabalkan pidato Sjahrir sebagai “salah satu yang paling menggetarkan Dewan Keamanan”. Alhasil, kemerdekaan Indonesia yang masih dirongrong Belanda mendapat pengakuan dan dukungan luas dari dunia internasional.

Buku ini berhasil memotret sisi kehidupan Sjahrir secara detail, mulai dari masa-masa sekolah sampai detik-detik pengabdian terakhir dari peletak dasar diplomasi luar negeri bebas aktif ini.