Oleh: Sukron Hadi

Judul : Princess – Kisah Tragis Putri Kerajaan Arab Saudi
Judul asli : Princess
Penulis : Jean P. Sasson
Penutur asli : Putri Sultana al Saud
Penerjemah : Husni Munir
Penerbit : Ramala Books, April 2007
Tebal : 380 halaman
Saat pertama kali membaca tulisan dalam sampul novel biografi ini, di toko buku, menyembul pertanyaan keluh dari sisi kemanusiaan saya; benarkah kisah tragis ini terjadi di negara tempat di mana Islam lahir? Lagi, fenomena merendahkan dan pembelengguan terhadap kebebasan perempuan menyeruak berserakan di kehidupan ini, entah sampai kapan?
Tragisnya, dalam novel ini, perempuan direndahkan dan kebebasannya dibelenggu begitu rapat dengan aturan-aturan yang menurut masyarakat Saudi merupakan ajaran Islam. Sultana (bukan nama asli) percaya betul bahwa hal seperti itu bukanlah perintah Tuhan, bahkan jauh dari ajaran Islam.
Novel ini diangakat dari kisah nyata perjalanan hidup Sultana, salah seorang putri keluarga kerajaan Saudi. Dan ditulis oleh sahabatnya, Jean P. Sasson.
Dalam novel pertama dari trilogi Princess, Sultana mengungkap bermacam tradisi maskulinitas jahiliyah yang masih begitu kental dalam kehidupan masyarakat Saudi; memiliki banyak istri, menutup rapat telinga mereka dari pendapat perempuan, menganggap perempuan adalah sumber maksiat, obyek seksual, kelahirannya dipandang sebagai aib, tak mendapat keadilan dihadapan hukum dan memperlakukannya sebagai budak.
Sultana adalah anak bungsu Fadila, istri pertama dari ayah Sultana yang memiliki 4 istri. Fadila melahirkan 16 anak tapi hanya 11 yang bertahan hidup. Dari kesebelas anak hanya Faruq, kakak terahir Sultana, yang laki-laki. Dibanding anak-anak lainnya, ayahnya lebih sayang terhadap Faruk, karena satu alasan dia berjenis kelamin laki-laki.
Sultana memiliki kakak perempuan yang cerdas dan cantik, Sara namanya. Ia memiliki cita-cita meneruskan sekolah seni di Itali. Ketika dia berumur 17 tahun, seperti halnya yang terjadi pada umumnya perempuan Saudi, Sara dikawinkan oleh ayahnya dengan laki-laki tua yang tidak ia kenal, yang merupakan rekan bisnis ayahnya. Jeritan dan raungan Sara tidak mengurangi sedikitpun niat ayahnya untuk menggiringnya ke altar perkawinan. Perkawinan pun berlangsung. Lima minggu setelah perkawinannya, Sara tergeletak di rumah sakit karena usaha bunuh dirinya, karena tidak tahan menghadapi sifat kejam suaminya. Kemudian mereka bercerai.
Begitu halnya dengan Sara, Sultana pada umur 16 tahun dikawinkan oleh ayahnya dengan salah seorang yang belum dikenalnya. Dengan usaha keras ia menolak, namun penolakannya sia-sia. Dia pun terpaksa menerima nasib, dengan syarat sebelum menikah ia bisa melihat dan mengenal dekat calon suaminya. Menghadapi sifat keras Sultana, ayahnya akhirnya mengabulkan permintaan yang pada saat itu masih tabu.
Sebagai bacaan, novel ini terkesan membosankan, monolog dan tanpa percakapan. Tapi untuk menutupi kesan tersebut, penulis mengemas novel biografi Sultana ini tidak datar mengisahkan kehidupan Sultana tok, tapi dengan disisipi berbagai kisah berkenaan dengan nasib buruk perempuan disekitarnya; nasib tragis tenaga kerja perempuan dari luar negri, kisah Samira yang dipenjara seumur hidup karena berpacaran dengan orang non muslim dan ditemukan tidak perawan lagi ketika malam pertama, kisah seorang gadis yang diperkosa kemudian dihukum rajam, tapi para pemerkosanya bebas dari tuduhan. Dan kisah-kisah tragis lainnya.
Juga, dengan berani Sultana membeberkan kebiasaan buruk sebagian pangeran keluarga kerajaan Saudi, menghamburkan kekayaan dengan pesta drugs dan mendatangkan PSK pilihan dari Eropa setiap minggunya.
Novel ini diakhiri dengan tragedi penyerangan Irak ke Kuwait, pada tahun 1990. Perang ini memakasa ribuan rakyat Kuwait mengungsi ke Arab Saudi. Para perempuan Kuwait yang mengungsi, dengan bebas mengendari mobil dan secara bersamaan tidak menggunakan cadar. Fenomena itu masih tabu di masyarakat Saudi.
Fenomena tersebut menumbuhkan kecemburuan para perempuan Saudi yang merasa terbelenggu dengan larangan mengemudi bagi perempuan. 47 perempuan berdemonstrasi menentang larangan konyol tersebut. Aksi mereka disambut hujatan masyarakat Saudi dan para ulama. Bahkan salah seorang dari demonstaran dieksekusi mati oleh ayahnya setelah berdemonstrasi, karena dianggap menodai nama baik keluarga. Sultana ingin sekali berpartisipasi dalam gerakan tersebut, namun suaminya dengan keras melarangnya dengan ancaman akan mengurungnya jika ia nekad bertindak seperti itu.
Novel ini membuka mata kita, melihat sisi kelam makhluk yang sekujur tubuhnya dibalut dengan kain hitam ini, di negeri yang dianggap sebagai poros agama Islam. Terang sekali, dalam novel ini sarat dengan pemberontakan jiwa Sultana akan tradis primitif yang masih menyuramkan budaya negrinya. Hanya ada satu harapan dari Sultana, ketika novel ini pertama kali diterbitkan; dunia mendengar jeritan perempuan Saudi.
Hanya satu kesan setelah membaca novel ini; Tragis!!
Recent Comments