Archive

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Diskusi Publik “Perang Global Melawan Terorisme”

October 30, 2009 formaci Leave a comment

11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n

Tewasnya Noordin M. Top dan Saifuddin Zuhri bagi beberapa kalangan tidak menjamin terorisme di indonesia telah mati. Terorisme selalu akan ada sebagai bentuk respon atas pelbagai situasi sosial kekinian. sekalipun gerakan mereka dianggap destruktif dan negatif, tapi kelompok teroris masih punya “suara”. Dan tak ada kekuatan lain yang dapat membendung gerakan teroris.

Perang melawan terorisme perlu disuarakan sebagai jaminan atas kebebasan dan penghargaan terhadap keyakinan dan keberagamaan. Bagaimanapun persoalan terorisme merupakan bagian dari problem kemanusiaan yang cukup kompleks sekaligus sebagai ancaman global.

Atas dasar itulah Forum Mahasiswa Ciputat bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta menyelenggarakan Diskusi Publik berjudul “Perang Global Melawan Terorisme.”

 

NARA SUMBER

1. Sidney Jones
(Senior Adviser International Crisis Group, ICG)
Topik: Komparasi Gerakan Terorisme Indonesia dan Duinia

2. Uil Abshar Abdalla
(Jaringan Islam Liberal)
Topik: Agama, Radikalisme dan Ancaman Terorisme Global

3. Noorhaidi Hasan
(UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Topik: Terorisme Indonesia – Timur Tengah

MODERATOR: Saidiman

 

Kamis, November 5, 2009 Pukul: 8:00am – 1:00pm

Gedung Auditorium Student Center (SC) UIN Jakarta

Categories: Uncategorized

permintaan maaf

September 8, 2009 formaci 1 comment

atas nama sukron hadi
meminta maaf kepada Saudara Slamet Thohari, karena tulisan yang berjudul “Beberapa pemikiran Bourdieu” yang dipampang di blog formaci, merupakan resuman dan plagiat 80% dr skripsi Slamet Thohari dan tidak mencantumkan nama yang bersangkutan.

Categories: Uncategorized

Tentang Candu Dan Ingatan, Trauma dan Sejarah Dalam Sajak-Sajak Paul Celan

June 25, 2009 formaci Leave a comment

Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009

Oleh Sulaiman Djaya ( Penggiat Kubah Budaya Serang Banten dan Forum Mahasiswa Ciputat)

Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu

(Paul Celan, Die Feste Burg).

Look not upon me, because I am black,
my mother children were angry with me;
they made me the keeper of the vineyards;
but mine own vineyard have I not kept.
Tell me, O, thou my soul loveth, where thou feedest,
where thou makest thy flock to rest at noon;
For why should I be as one that turneth aside
by thy flocks of thy companions? /
I have compared thee, O, my love,
to a company of horses in Pharao’s chariots

(Song of Songs).

Read more…

Categories: Uncategorized

Sketsa Konsili XXI Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)

February 9, 2009 formaci 5 comments

Oleh: Sukron Hadi

Sabtu 7 Februari 2009, kami, 60 anggota Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dari berbagai generasi bersuka ria menikmati perjalanan menuju pantai Carita untuk mengadakan Konsili yang ke 21. Enam puluh adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan anggota Formaci yang sebenarnya, yang pernah aktif di forum diskusi ini, dari tahun berdirinya 1986, sampai 2009 ini.

Read more…

Categories: Uncategorized

“FPI dengan Bambu Runcing Serang Barisan Massa yang terdapat Ibu-ibu, Orang-tua, Pemuda dan Beberapa Anak Kecil”

June 1, 2008 formaci 10 comments

Lapangan Monas, Minggu, 1 Juni, ratusan massa dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), mengadakan apel siang di Monas, untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Mereka menyeru untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar Negara dan juga mereka menyeru kepada Bangsa untuk menjunjung martabat Bangsa Indonesia dengan menghargai kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan apapun di Negeri pertiwi ini.

Read more…

Categories: Uncategorized

Konsili XX

April 10, 2008 formaci 2 comments

Spanduk itu kecil betul, kontras dengan yang ada di bawahnya…….

Read more…

Categories: Uncategorized

Wanita itu tidak ada!

April 7, 2008 formaci 2 comments

Oleh : M. Soleh

Siapa bilang wanita itu tidak ada? Anda tidak akan berani mengatakannya. Perempuan ada di mana-mana. Ia ada kapan saja. Wanita selalu ada dalam benak pria. Pria membutuhkannnya. Itu alamiah. Pria akan selalu berdampingan dengannya untuk mewariskan keabadian, jika ia punya anak darinya. Namun bila ada yang bilang sebaliknya: wanita tidak ada! Pasti anda akan terkesiap. Anda merasa ditipu.

Pastinya ini bukan omong kosong. Memang, wanita itu tidak ada. Mengapa begitu? Ini bukan hal keinginan yang tidak kesampaian atau bertepuk sebelah tangan. Bagi para filsuf, wanita itu adalah hal yang tidak mungkin. Ia selalu surut. Bersembunyi, atau bermaian dengan penampilan. Ketika ia menampilkan dirinya, ia dengan segera berpunggungan. Ia dengan tutur menggoda, atau paras yang ranum. Itu bukan soalnya. Soalnya adalah ia selalu ingin didekati. Ia ingin dijemput pria. Meski pria selalu tertarik olehnya, wanita selalu menghindar. Ia tidak mau di miliki. Ia ingin selalu dinantikan. Wanita adalah penantian dan penantian itu sendiri. Setiap penantian akan menjadi penantian hanya jika yang dinanti tak pernah muncul. Ia tidak ada. Ia adalah “lubang” atau kekosongan itu sendiri, melansir istilah Lacan, Lack. Karena itu wanita bukan hal yang bisa dimiliki. Wanita menjadi mustahil. Wanita itu abadi, kalau kata Goethe. Dan apa-apa yang abadi selalu menjadi hal ihwal. Karena itu ia tidak ada.

Tentu, ini bukan pandangan misoginis. Sepertinya berlebihan. Wanita memang selalu berlebihan, karena ia adalah “kelebihan” itu sendiri. Jika wanita itu tidak ada, maka citra tentang wanita itu menjadi lebih, excess. Kita tidak bisa memikirkan wanita karena wanita berada di luar pikiran. Wanita tidak bisa dipikirkan. Jika ia ada di dalam pikiran, maka ia bukan ketiadaan lagi.

Mengapa wanita itu tidak ada? Bagi Lacan, setiap keinginan ibu adalah keinginan ayah. Ayah selalu memiliki kekuasaan. Dalam mitologi, “tragedi Oedipus” menjadi asal usul adanya peradaban. Freud pernah mengandaikan bahwa setiap anak selalu cemburu terhadap ayah karena ayah mendominasi ibu. Anak juga membutuhkan ibu. Ia perlu perawatan, kasih sayang, sentuhan lembut, atau gizi air susu. Namun, semua hubungan yang awalnya antara si anak dan si ibu menjadi terpisah. Menghasrati ibu selalu tidak penuh karena perhatian ibu terbagi dengan ayah. Si ayah mengebiri (castration) hasrat si anak. Inses menjadi tidak mungkin. Si ibu yang menjadi objek hasrat bagi si anak menjadi hilang.

Ayah kemudian menjadi Big Other dalam masyarakat yang memerintah sepenuhnya hasrat si ibu. Bisa dimengerti jika setiap kekuasaan atau “ayah” mempertahankan efektifitasnya dengan melarang atau menegakkan hukum. Tidak ada masyarakat tanpa kekuasaan yang disimbolkan oleh ayah. Karena itu di mana ada hukum di situ tidak ada wanita, dan transgresi terhadap hukum adalah sesuatu yang tidak mungkin: bisa di anggap menyimpang, abnormal, sakit, atau gila. Barangkali manusia alamiah yang dilandaskan pada survive dan mencari order, dengan niscaya telah selalu mengeksklusi setiap kemungkinan wanita untuk muncul. Wanita selalu ditindas. Wanita masih tersimpan.

Tidak aneh jika Oedipus adalah kisah tragis. Oedipus harus “membutakan” matanya, setelah bersebadan dengan ibunya sendiri . ia juga menjadi penyebab ibunya menjanda. Mencari wanita sama saja tidak mencintai mata sendiri, karena bertemu wanita akan membutakan mata kita. Cerita yang telah berusia dua millennium itu kiranya tetap relevan kenapa wanita selalu terpinggirkan: karena kita masih perlu mata kita. Tanpa mata, kita tidak bisa mengetahui, dan semakin tahu kita menjauhkan wanita. Ia selalu jauh, tapi ia tetap melambaikan tangannya, memanggil, untuk mendekatinya, kendati itu tidak mungkin. Karena ia tidak ada, kita terus menantinya, meski ia memang tak pernah akan datang. Sapaannya “sore” itu menjadikan kedatangannya hanyalah sebatas janji.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Kini bergiat di Forum Mahasiswa Ciputat

Categories: Uncategorized

Agar Kebebasan Perempuan Tak Lagi Tersudutkan

April 7, 2008 formaci Leave a comment

Oleh: Syaira Rahmani*

Kini zaman persamaan. Pembedaan antara lelaki-perempuan hanyalah masa lalu. Benarkah? Setidaknya, tanpa mengumbar data pun, ada lima ranah yang secara kasatmata masih basah oleh diskriminasi:

pertama, dalam masyarakat kita, perempuan disubordinasi dalam pengambilan keputusan. Bahkan, kadang untuk urusan bersama (laki-laki dan perempuan). Akibatnya, perempuan tidak dapat mengontrol apabila keputusan itu tidak menguntungkan atau malah merugikan mereka.

Kedua, perempuan tidak memiliki kesempatan seperti laki-laki dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi dan politik, sehingga perempuan secara ekonomi terpinggirkan dan secara politik termarjinalkan. Tidak saja soal gaji, persoalan kesejahteraan yang lain seperti tunjangan, perempuan sering diperlakukan secara berbeda. Untuk mendapatkan jatah 30% saja di parlemen butuh perjuangan.

Ketiga, perempuan sering mendapat label negatif, misalnya, perempuan itu penggoda, kanca wingking (berperan di sektor domestik), swarga nunut neraka katut, emosional dan kurang rasional, dan seterusnya.

Keempat, perempuan juga sering menjadi korban kekerasan baik di wilayah privat atau di wilayah publik seperti kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Perlunya UU antikekerasan rumah tangga belakangan ini sungguh membuktikan betapa banyaknya fenomena ini.

Kelima, dalam keluarga, perempuan sering mempunyai beban pekerjaan yang jauh lebih berat dari laki-laki akan tetapi hasil kerja perempuan sering kali tidak dihargai seperti pekerjaan laki-laki

Lalu mengapa pembedaan dan ketidakadilan ini terus saja didaur-ulang? Bahkan, sudah menjadi kebiasaan yang mengakar dan menjadi patokan. Ada banyak kacamata analisis untuk melihatnya. Tapi, yang saya tergelitik ketika kenyataan dan kebiasaan ini dilegalkan atas nama agama. Kepatuhan perempuan dianggap kesucian. Penomorduaan perempuan sudah titah Tuhan. Benarkah Tuhan memandang perempuan sebagai makhluk nomor dua setelah laki-laki sehingga ketidakberdayaan perempuan perlu dimaklumi dan sudah kodrati dari Tuhan?

Antara Teks Otentik dan Penafsiran Relatif

Dengan merujuk pada surat al-Ahzab [33]:33 tak sedikit orang memandang bahwa tempat yang cocok bagi perempuan adalah di rumah, an-Nisa’ [4]: 34 laki-laki memiliki kekuasaan atas perempuan, al-Baqarah [2]:228 mengedepankan kelebihan laki-laki atas perempuan.

Dari segi Hadis, mereka merujuk pada periwayatan Abu Bakrah: Telah kuperoleh keberuntungan dari Allah melalui sebuah kalimat yang saya dengar dari Rasulullah SAW pada hari-hari perang Jamal sesudah aku bergabung dengan Pasukan Jamal (Siti Aisyah) dan berperang bersama mereka. Katanya, tatkala berita sampai kepada Rasulullah SAW bahwa masyarakat Parsi menobatkan putri Kisra sebagai raja, Rasulullah pun bersabda, “Tidak akan berjaya masyarakat yang menyerahkan urusan (kepemimpinan)nya kepada perempuan. (HR Bukhari, Ahmad, Nasa’i dan Turmudzi).

Bisakah ayat-ayat dan hadis di atas dijadikan keputusan mutlak untuk menjadikan perempuan terisolasi? Jika ayat-ayat tersebut dijadikan landasan, mungkinkah Tuhan memiliki sifat diskriminatif dengan membedakan hak manusia (laki-laki) atas manusia lain (perempuan)? Atau ini hanyalah penafsiran para mufasir dalam mereprentasikan teks Al-Quran?

Dalam agama apa pun, Tuhan diakui memiliki otoritas. Tapi, Tuhan tidak melaksanakan otoritas-Nya secara langsung, tapi diwakili oleh teks agama (wahyu). Sebagai teks, wahyu itu pun tak langsung bicara tanpa pembaca atau penafsirnya. Penafsirlah juru bicara otoritas Tuhan itu. Dengan kata lain, Tuhan berwenang (otoritatif) dan kewenangan-Nya diwakili oleh manusia—ulama, fakih, dan mufasir—yang tidak selalu bersih dari kesewenang-wenangan (otoriter).

Dan kenyataannya, sejarah tafsir adalah sejarah laki-laki. Buku tafsir yang ditulis perempuan sangat langka. Mengingat tidak pernah ada tafsir yang bebas dari subyektifitas penulis dan konstruksi budaya yang mengitarinya, maka kita patut curiga: Tuhan atau juru bicaranya yang bias jender dan sewenang-wenang?

Bukankah banyak ayat lain yang menegaskan adanya hak yang sama antara laki-laki dan perempuan? Lihat surah al-Hujurat [49]: 13 bahwa hamba yang paling ideal antara laki-laki dan perempuan adalah muttaqîn (orang bertakwa), an-Nahl [16]: 97 bahwa laki-laki perempuan mendapatkan kapasitas penghargaan yang sama sesuai pengabdiannya, al-An’am [6]: 165, al-Baqarah [2]:30 bahwa laki-laki dan perempuan merupakan khalifah di bumi, al-A’raf [7]: 172 bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai perjanjian primodial dengan Tuhan.

Hadis populer di atas, dari sudut sanad, memang dinilai sahih. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pertama, karena statusnya sebagai hadis ahad (yang diriwayatkan hanya oleh satu mata rantai), yang menurut para ahli hadis, tidak bisa memberikan keyakinan yang penuh atas keotentikannya Kedua, hadis itu baru dikemukakan oleh perawinya Abu Bakrah, seorang diri, kira-kira 23 tahun sesudah Nabi wafat. Selama itu, tidak ada seorang sahabat pun yang diketahui ikut mewartakannya. Ketiga, hadis itu dikemukakan oleh perawi pada saat-saat konflik antara partai Sayyidina Ali r.a. dengan partai Siti Aisyah dan mulai tampak tanda-tanda kekalahan di pihak Aisyah. Keempat, hadis itu dinyatakan oleh Rasulullah SAW, demikian menurut perawi, dalam konteks kekaisaran Parsi yang notabene memang menyimpang dari kebenaran Islam. (Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, Mizan, Jakarta 1997, h. 59)

Pada masa Nabi Muhammad, perempuan mempunyai peranan aktif dalam berbagai kegiatan penting, seperti keikutsertaan mereka dalam delegasi Pembaitan Kaum Anshar pada Nabi, dengan berjanji akan melindungi dan membela Islam. Nabi juga sangat menghargai dan memperhatikan hak-hak perempuan seperti hak seksual, hak bercerai, dan hak mahar, hak waris yang pada waktu itu sama sekali tidak diakui haknya.

Jadi, dengan jelas bisa pastikan bahwa ketika seseorang mencari rujukan pada teks-teks keagamaan, bisa jadi penafsirannya adalah tafsiran mufassir yang relatif dan bukan maksud dari Al-Quran yang autentik. Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat penting untuk terus menerus mengkaji ajaran agama agar senantiasa relevan dengan perkembangan zaman. Sebagaimana yang dilakukan oleh Roger Garaudy, filsof Islam dari Prancis dalam bukunya Integrismes menolak kekeliruan mematikan tentang Syari’ah sebagai hukum moral Ilahi yang abadi dan fiqih sebagai legislasi manusia yang dirancang untuk menjawab problema-problema setiap zaman yang dihadapi oleh makhluk Ilahi yang selalu memperbaharui diri. (Roger Garaudy:1993).

Hal itu menandakan bahwa, dalam menafsirkan sebuah teks keagamaan tidak ada dan tidak diizinkan untuk mengklaim memiliki kebenaran mutlak dalam penafsiran. Sehingga pemikiran seperti itu tidak terjebak pada sebuah pengakuan sebagai juru bicara yang Tuhan yang paling benar dan menafikkan pandanngan yang lain, padahal hal tersebut didapat menurut kapasitas dan kapabilitas dalam menjangkau makna sebuah teks keagamaan. Wallahu A’lam, Innallaha ma’ana.

*Mahasiswi Jurnalistik UIN Syarif Hidatullah Jakarta

Categories: Uncategorized

Hello world!

April 7, 2008 formaci 1 comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized