<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>formaci</title>
	<atom:link href="http://formaci.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://formaci.wordpress.com</link>
	<description>forum mahasiswa ciputat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 Oct 2009 04:29:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='formaci.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/148d3b61d1fea19f8720851562c98339?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>formaci</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Diskusi Publik &#8220;Perang Global Melawan Terorisme&#8221;</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/10/30/diskusi-publik-perang-global-melawan-terorisme/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/10/30/diskusi-publik-perang-global-melawan-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 04:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[
Tewasnya Noordin M. Top dan Saifuddin Zuhri bagi beberapa kalangan tidak menjamin terorisme di indonesia telah mati. Terorisme selalu akan ada sebagai bentuk respon atas pelbagai situasi sosial kekinian. sekalipun gerakan mereka dianggap destruktif dan negatif, tapi kelompok teroris masih punya &#8220;suara&#8221;. Dan tak ada kekuatan lain yang dapat membendung gerakan teroris.
Perang melawan terorisme perlu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=109&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-110" style="margin:10px 20px;" title="11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n" src="http://formaci.files.wordpress.com/2009/10/11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n.jpg?w=199&#038;h=290" alt="11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n" width="199" height="290" /></p>
<p>Tewasnya Noordin M. Top dan Saifuddin Zuhri bagi beberapa kalangan tidak menjamin terorisme di indonesia telah mati. Terorisme selalu akan ada sebagai bentuk respon atas pelbagai situasi sosial kekinian. sekalipun gerakan mereka dianggap destruktif dan negatif, tapi kelompok teroris masih punya &#8220;suara&#8221;. Dan tak ada kekuatan lain yang dapat membendung gerakan teroris.</p>
<p>Perang melawan terorisme perlu disuarakan sebagai jaminan atas kebebasan dan penghargaan terhadap keyakinan dan keberagamaan. Bagaimanapun persoalan terorisme merupakan bagian dari problem kemanusiaan yang cukup kompleks sekaligus sebagai ancaman global.</p>
<p>Atas dasar itulah Forum Mahasiswa Ciputat bekerja sama dengan Jaringan Islam Liberal dan Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta menyelenggarakan Diskusi Publik berjudul “Perang Global Melawan Terorisme.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>NARA SUMBER</p>
<p>1. Sidney Jones<br />
(Senior Adviser International Crisis Group, ICG)<br />
Topik: Komparasi Gerakan Terorisme Indonesia dan Duinia</p>
<p>2. Uil Abshar Abdalla<br />
(Jaringan Islam Liberal)<br />
Topik: Agama, Radikalisme dan Ancaman Terorisme Global</p>
<p>3. Noorhaidi Hasan<br />
(UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)<br />
Topik: Terorisme Indonesia &#8211; Timur Tengah</p>
<p>MODERATOR: Saidiman</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kamis, November 5, 2009 Pukul: 8:00am &#8211; 1:00pm</p>
<p>Gedung Auditorium Student Center (SC) UIN Jakarta</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=109&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/10/30/diskusi-publik-perang-global-melawan-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://formaci.files.wordpress.com/2009/10/11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">11539_1157306820378_1458967756_30451744_1258487_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merah Putih; Sebuah Pesan Akan Pentingnya Persatuan</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/09/14/merah-putih-sebuah-pesan-akan-pentingnya-persatuan/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/09/14/merah-putih-sebuah-pesan-akan-pentingnya-persatuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 18:03:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/2009/09/14/merah-putih-sebuah-pesan-akan-pentingnya-persatuan/</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal rilis    : 13 Agustus 2009 (INA)
Genre        : action
Durasi        : 108 menit
Sutradara    : Yadi Sugandi
Pemain           : Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=103&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanggal rilis    : 13 Agustus 2009 (INA)<br />
Genre        : action<br />
Durasi        : 108 menit<br />
Sutradara    : Yadi Sugandi<br />
Pemain           : Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Zumi Zola, Saraswati<br />
Produksi    : PT Media Desa dan Margate House<br />
Peresensi: Sukron Hadi, Pegiat di Forum Mahasiswa Ciputat [FORMACI]</p>
<p>“Priyayi melawan Petani, Jawa melawan Sulawesi. Siapa yang menang?! Belanda!!!.” Pekik Soerono (Zumi Zola)  menghentikan pertengkaran antara Marius dan Thomas.<br />
Di atas adalah sepenggal adegan dalam film “Merah Putih,”  sekuel pertama dari trilogi Merdeka. Adegan di atas menggambarkan konflik latar belakang kesukuan, agama dan status yang mewarnai sekolah calon Tentara Rakyat Indonesia yang berada di  Jawa Tengah.<br />
Film ini berlatar Indonesia tahun 1947, pasca-kemerdekaan. Di mana saat masa tersebut pemerintah Belanda berharap untuk menguasai Indonesia kembali, namun mendapat perlawanan dari rakyat Indonesia. Sehingga Belanda pun melakukan agresi di berbagai wilayah di Indonesia untuk membasmi pejuang kemerdekaan.</p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p>Marius (Darius Sinathrya) adalah salah satu dari 25 calon tentara yang telah mendaftarkan diri untuk dilatih menjadi tentara di Sekolah Tentara Republik Indonesia. Dia yang berlatar belakang priyayi muslim dari Batavia dan lulusan Universitas  dengan sifat angkuhnya menebar permusuhan dengan salah satu calon tentara lainnnya, Thomas (Dony Alamsyah) yang berlatar belakang petani atau peternak ayam dan seorang pemeluk Kristen dari salah satu desa di Sulawesi Utara. Sikap Marius berbeda jauh dengan sahabatnya, Soerono yang juga seorang priyayi terdidik. Ia mampu bersikap arif dengan menghargai segala perbedaan demi pencapaian tujuan bersama untuk mengalahkan tentara Belanda.<br />
Sedangkan calon tentara lainnya, Amir (Lukman Sardi), seorang muslim taat yang berlatar belakang guru, juga berbeda dengan Marius, ia sangat toleran terhadap segala perbedaan. Begitu juga dengan Dayan (T. Rifnu Wikana) pemuda pendiam dan sopan dari Bali yang beragama Hindu, dia sangat toleran menyikapi segala perbedaan latar belakang yang berbeda-beda dari teman-temannya di sekolah militer tersebut.<br />
Namun akhirnya, sikap menanam kebencian terhadap perbedaan tersebut terasa tidak ada artinya lagi ketika kamp pelatihan mereka di serang tentara Belanda. 25 tentara baru tersebut dengan tanpa pengalaman, mental yang belum teruji dan kemampuan yang belum teruji sekuat tenaga mempertahankan diri dari serangan tentara Belanda yang berjumlah jauh lebih banyak yang dipersenjatai persenjataan yang lebih canggih. Serangan tersebut  menewaskan sebagian besar tentara-tentara Indonesia. Dan yang tersisa hanya empat tentara: Amir, Thomas, Dayan dan Marius.<br />
Keempat tentara tersebut berjuang melawan maut dari kejaran tentara Belanda sembari berusaha melindungi penduduk desa dari kekejaman tentara Belanda. Sembari bersembunyi, mereka menyiapkan strategi untuk melawan penjajah.<br />
Proses Penggarapan Film Yang Ambisius<br />
Dalam film yang talah diputar di jaringan bioskop 21 dan Blitz Megaplex sejak 13 Agustus lalu ini kelima aktor yang memerankan tokoh utama, bermain cukup maksimal. Kelima-limanya, kecuali Lukman Sardi, menampilkan kemampuan mereka berakting yang matang. Sehingga karakter tokoh yang dibawakan mereka masing-masing mampu menghidupkan alur cerita yang terlalu sederhana dalam film ini.<br />
Kualitas tata rias dan tata letak seting film serta perlengkapan perang dari kostum sampai persenjataan dalam film ini cukup meyakinkan dalam menggambarkan suasana perang. Bahkan bisa disebut cukup berkualitas.  Tidak hanya itu, film ini juga berhasil menampilkan efek gambar dan efek suara ledakan senjata dan baku hantam, meski ada beberapa cacat yang masih berceceran, seperti mayat yang telihat perutnya kembang-kempis, darah yang keburu memuncerat dari mulut sebelum popor menghantam muka.<br />
Untuk menciptakan film ini, PT. Media Desa dan Margate House mendatangkan ahli film professional dari dalam negeri maupun luar negeri. Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi yang sebelumnya sebagai penata gambar mensuksekan film Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari untuk Selamanya, dan The Photograph.<br />
Dan juga yang mencengangkan pihak Margate House memboyong ke Indonesia beberapa profesional yang sukses menangani film-film Hollywood untuk menggarap film ini. Connor Allyn dan Rob Allyn dipecaya untuk menjadi produser eksekutif dan menulis skenario film ini. Adam Howarth, koordinator special effects yang pernah menangani “Saving Private Ryan” dan “Blackhawk Down”, Rocky McDonald, koordinator stuntman yang menangani “Mission Impossible II” dan “The Quiet American”, Rob Trenton yang menangani make-up dan visual effects (“The Dark Knight”), John Bowring, konsultan ahli persenjataan (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins: Wolverine), dan Mark Knight sebagai asisten sutradara (December Boys,Beautiful). Mereka sengaja didatangkan untuk menciptakan sebuah film kemerdekaan yang dibungkus dengan gaya Blockbuster. Tak ayal untuk menyelesaikan sekuel trilogi ini membutuhkan dana Rp. 60 Milyar, sebuah angka yang fantastis.<br />
Namun film ini secara keseluruhan belum bisa disebut sebagai film bertema perang yang sangat berkualitas yang bisa disaingkan dengan film bertema perang Hollywood. Sebut saja “Defiance” dan “Letters of Iwo Jima” dua film Hollywood bertema perang yang mampu menyajikan ketotalan dari berbagai sisi film.<br />
Film Merah Putih dari sisi cerita terlalu sederhana dan belum mampu menangkap suasana perang melawan penjajahan di sebuah negeri bernama Indonesia, karena bagian pertama trilogi film kemerdekaan ini hanya berkonsentrasi pada satu tempat: Sekolahan Tentara Rakyat Indonesia dan lingkungan sekitarnya. Dan terlalu lebih menyajikan kehidupan pribadi dan hubungan antar lima tokoh tersebut untuk ukuran film berdurasi dua jam yang berambisi menampilkan perjuangan melawan penjajahan.<br />
Di film ini, kita tidak disajikan sedikitpun suasana yang menggambarkan kondisi sosial, ekonomi dan politik di negeri Indonesia pada masa 1947, yang sebenarnya penting dihadirkan dalam sebuah film sejarah. Suasana politik tersebut hanya dilukisan melalui text prologue di awal film ini, dan itu belum cukup menangkap suasana. Semoga di sekuel berikutnya akan dsajikan lebih matang.<br />
Membangkitkan Rasa Nasionalisme<br />
Meskipun demikian, di tengah maraknya film-film horor, komedi romantis, romansa islami dan tentang kisah remaja  yang telah merajai layar lebar Indonesia saat ini, film “Merah Putih” memberi nafas segar bagi perfilman Indonesia dan juga mengobati kerinduan masyarakat Indonesia yang lama tidak disambangi film perang perjuangan untuk kemerdekaan.<br />
Tidak hanya itu, film ini juga cukup menumbuhkan rasa nasionalisme. Gemuruh tepuk tangan dan pekik “merdeka” terlontar dari sebagian penonton setelah lampu teater bioskop 21 Blok M  di mana penulis menonton film ini, menyala.<br />
Bagaimana tidak, penonton disajikan pembantaian seluruh warga perkampungan oleh tantara Belanda secara klise dan dramatis dan beberapa kekejaman lainnya. Dan juga aksi heroik yang dilakukan empat tentara yang tersisa dengan persediaan senjata modern yang terbatas, dengan bantuan belasan warga desa dari orang tua sampai anak kecil dengan bersenjatakan senapan dan sebagian besar bersenjatakan parang, arit dan bambu runcing karena dengan semangat kemerdekaan yang berkobar-kobar dan strategi yang matang mereka mampu mengalahkan satu pasukan tentara Belanda yang membawa tangki bensin ke satu markas, meski jumlah tentara Belanda jauh lebih banyak.<br />
Sisi dramatis, mengharukan dan sarat muatan pesan dalam film ini adalah rasa nasionalisme dan kebhinekaan yang tertanam dalam hati dan sikap para tentara Indonesi telah melampaui pertentangan perbedaan latar belakang, suku, status dan agama, demi satu tujaun bersama: merdeka!. Suatu sikap yang harus kita pupuk pada diri kita yang hidup pada masa sekarang yang mendapat buah kemerdekan dari para pejuang-pejuang kita, supaya konflik kesukuan, agama dan kepercayaan tidak lagi menodai kerukunan bangsa kita.()</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=103&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/09/14/merah-putih-sebuah-pesan-akan-pentingnya-persatuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>permintaan maaf</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/09/08/permintaan-maaf/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/09/08/permintaan-maaf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 06:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/2009/09/08/permintaan-maaf/</guid>
		<description><![CDATA[atas nama sukron hadi
meminta maaf kepada Saudara Slamet Thohari, karena tulisan yang berjudul &#8220;Beberapa pemikiran Bourdieu&#8221; yang dipampang di blog formaci, merupakan resuman dan plagiat 80% dr skripsi Slamet Thohari dan tidak mencantumkan nama yang bersangkutan.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=102&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>atas nama sukron hadi<br />
meminta maaf kepada Saudara Slamet Thohari, karena tulisan yang berjudul &#8220;Beberapa pemikiran Bourdieu&#8221; yang dipampang di blog formaci, merupakan resuman dan plagiat 80% dr skripsi Slamet Thohari dan tidak mencantumkan nama yang bersangkutan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=102&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/09/08/permintaan-maaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Candu Dan Ingatan,  Trauma dan Sejarah Dalam Sajak-Sajak Paul Celan</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/06/25/tentang-candu-dan-ingatan-trauma-dan-sejarah-dalam-sajak-sajak-paul-celan/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/06/25/tentang-candu-dan-ingatan-trauma-dan-sejarah-dalam-sajak-sajak-paul-celan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 03:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/2009/06/25/tentang-candu-dan-ingatan-trauma-dan-sejarah-dalam-sajak-sajak-paul-celan/</guid>
		<description><![CDATA[Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009
Oleh Sulaiman Djaya ( Penggiat Kubah Budaya Serang Banten dan Forum Mahasiswa Ciputat)
Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu
(Paul Celan, Die Feste Burg).
Look not upon me, because I am black,
my [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=97&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pikiran Rakyat, 31 Mei 2009</strong></p>
<p><em>Oleh Sulaiman Djaya ( Penggiat Kubah Budaya Serang Banten dan Forum Mahasiswa Ciputat)</em></p>
<p>Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang.<br />
Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –<br />
di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu</p>
<p>(Paul Celan, Die Feste Burg).</p>
<p>Look not upon me, because I am black,<br />
my mother children were angry with me;<br />
they made me the keeper of the vineyards;<br />
but mine own vineyard have I not kept.<br />
Tell me, O, thou my soul loveth, where thou feedest,<br />
where thou makest thy flock to rest at noon;<br />
For why should I be as one that turneth aside<br />
by thy flocks of thy companions? /<br />
I have compared thee, O, my love,<br />
to a company of horses in Pharao’s chariots</p>
<p>(Song of Songs).</p>
<p><span id="more-97"></span><br />
Adalah Jacques Derrida dalam eseinya yang berjudul Schibboleth pour Paul Celan memandang Paul Celan sebagai penyair dengan bahasa yang tercabik-cabik, bahasa yang berkubang di antara luka dan ingatan, yang tidak menjahit sobekan lama, luka dan ingatan yang hanya bisa diam di hadapan sejarah dan perjanjian, tentang identitas yang menorehkan kepedihan dan mendatangkan malapetaka pada tubuh.<br />
Sementara itu bagi saya sendiri, sajak-sajak Celan adalah tangis bisu melankoli. Campuran antara dendam, rasa bersalah, dan penyesalan diri yang tak berkesudahan. Kenangan dan ingatan sebagai hantu yang terus-menerus hadir, kenangan dan ingatan yang memabukkan dan menyakitkan layaknya candu, seperti kenangan dan ingatan Celan tentang ibunya dalam sajak Espenbaum: “Pintu jati, siapa mencabutmu dari engsel? Bunda lembutku tak kuasa datang”.<br />
Celan sendiri adalah korban, ketika identitas dilekatkan pada tubuh, tubuh yang didefinisikan secara politis dan rasis, tubuh yang telah ditandai “cap bakar” (Brandmal): “Tak lagi kita tidur, sebab terbaring di detik kemurungan, dan kita rentang jarum jam seolah ranting, dan ia melenting kembali, mencambuk sang waktu hingga berdarah”.<br />
Sajak tersebut sepenuhnya surealistis, meski Celan sendiri menolak penyebutan “surealis” untuk sajak-sajaknya, sebab metafor yang dibangun dan teknik pengalihan yang dilakukan Celan untuk menggambarkan sebuah pengalaman atau pun peristiwa demikian “sureal”, ketika sajak-sajak yang ditulisnya lebih mengedepankan fantasi dan pelukisan suasana bathin, mirip upaya transendensi, yang dengan itu pula kita bisa menilai keunikan dan kelebihan sajak-sajak Celan dari penyair-penyair Jerman yang lainnya, semisal Goethe dan Brecht, yang relatif lebih cepat untuk dipahami.<br />
****<br />
Tangis bisu sajak-sajak Celan pada dasarnya adalah sejumlah pertanyaan dan gugatan, pertanyaan dan gugatan terhadap perjanjian yang telah dijanjikan Tuhan, Tuhan yang telah mengorbankan manusia, Tuhan yang tak ada ketika tubuh manusia dijadikan korban: “Berdirilah dalam badam Sang Ketiadaan”. Tuhan yang tidak menjawab: “Tergenggam sudah, Gusti, berjalin berkelindan, seolah tubuh-tubuh kami adalah Tubuh-Mu. Berdoalah pada kami, kami dekat”.<br />
Dua kutipan yang diambil dari dua sajak yang berjudul Mandorla dan Tenebrae tersebut adalah ekspresi kemarahan dan gugatan, ateisme religius. Dalam konteks inilah, Celan adalah Ayub abad dua puluhan.<br />
****<br />
Tetapi Derrida punya pendapat lain, sajak-sajak Celan adalah ingatan tentang ingatan itu sendiri, sebentuk penghapusan diri, sejenis tujuan yang lahir dan lenyap, diri sebagai setitik jejak samar dalam sejarah. Karena bagi Derrida, ingatan itu sendiri adalah kekaburan, seperti candu yang membuat seseorang mabuk dan limbung. Ingatan adalah tanda yang tidak dapat dibaca dan dijelaskan, karena ingatan didasarkan pada kehilangan, ingatan adalah candu yang memabukkan itu sendiri.<br />
Ingatan dan kenangan yang memabukkan seperti candu tersebut adalah juga ingatan yang muram. Yang bila meminjam istilahnya Agus R. Sarjono seperti ketika seseorang “berada di tengah gelap musim dingin” yang indah dan menggigil.<br />
Kemuraman sajak-sajak Celan yang mengental sekaligus indah tersebut setidak-tidaknya terasa juga dalam salah-satu sajaknya yang berjudul Die Feste Burg: “Kutahu rumah paling malam dari segala rumah: suatu mata yang jauh lebih dalam dari matamu mengintai di situ. Di atapnya berkibar benderaderita yang lebar: bahan hijaunya –tak kau tahu kau lah yang menenunnya, juga terbang demikian tinggi, seolah bukan kau tenun sendiri. Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang. Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu. Namun, bila kau melangkah ke cermin di rumah itu, maka ketiganya –bunga, kalbu, tangkai –memandangmu. Dan mata lebih dalam itu, meminum matamu yang dalam”.<br />
****<br />
Dalam pembacaan saya, tema dan cerita yang ingin digambarkan dan disampaikan Die Feste Burg sesungguhnya tidak berbeda dengan Espenbaum, sajak di atas masih bercerita tentang kenangan dan ingatan seseorang yang telah tiada. Seseorang yang juga telah menjadi korban “cap bakar” (Brandmal). Begitu juga di sisi lain, seperti yang telah dipaparkan dengan baik oleh Berthold Damshauser, tema-tema yang ingin disampaikan, diceritakan, dan diungkapkan sajak-sajak Celan sebenarnya tidak jauh dari tema-tema dan cerita-cerita yang ada dalam sajak-sajak Brandmal, Tenebrae, Mandorla, Todesfuge, dan Corona.<br />
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa sajak-sajak Celan adalah partita elegi dan nyanyian penghiburan diri tentang kematian dan ingatan atau pun kenangan tentang kematian itu sendiri. Tentang orang-orang yang dikorbankan. Lima sajak tersebut menurut saya cukup mewakili semua sajak yang ada dalam buku kumpulan sajak Candu Dan Ingatan hasil terjemahan dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh Berthold Damshauser dan Agus R. Sarjono, bila pembaca ingin menemukan “apa yang ingin diceritakan” dan “dunia apa yang ingin digambarkan” oleh sajak-sajak Celan.<br />
Dan dari itu semua, apa yang ingin disampaikan secara tersirat oleh sajak-sajak Celan tak lain adalah sejarah, pengorbanan, perjanjian, dan penebusan, yang adalah juga tema-tema penting dalam Judaisme. Dan Celan sendiri sebagai penyairnya berkubang dalam tema-tema tersebut.<br />
Sebisu dan semuram apa pun, sajak-sajak Celan adalah bahasa yang menyembunyikan api dan amarah, amarah seorang Yahudi Jerman (Deutschjudentum), ketika ia kembali terusir dari pengusiran sebelumnya: “Sang kata, pada siapa kau pamit, menyambutmu di gerbang. Dan yang telah menyentuhmu di sini –tangkai, kalbu, bunga –di sana telah lama jadi tamu dan tak bakal lagi menyentuhmu (Die Feste Burg)”.<br />
Bait-bait tersebut, dalam pembacaan saya, adalah sebuah gambaran tentang “keterusiran”, seperti terusirnya orang-orang Yahudi dari Mesir di jaman Musa yang digambarkan dan diceritakan oleh bait-bait Song of Songs yang telah saya kutip dalam pembukaan tulisan. Di sini dapatlah dikatakan bahwa tema dan gambaran tambahan cukup dominan yang ingin disiratkan oleh sajak-sajak Celan adalah sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah itu sendiri. Sejarah yang dimaknai sebagai perjanjian, pengusiran, dan penebusan.<br />
****<br />
Tapi Celan bukan hanya korban dari politik-rasisme dan rasisme politik dalam sejarah kelam totalitarianisme modern, ia adalah korban “trauma” yang tak mendapatkan obatnya. Sajak-sajak yang ditulisnya merupakan usaha tanpa henti untuk melakukan “penyembuhan luka bathin” akibat terlampau tenggelam dalam “candu-ingatan” , yang kadung menjelma “kegilaan melankolik” dan paranoia amat parah. Wajar saja bila ia pun terjebak pada rasisme lainnya, kerinduannya pada Jerusalem sebagai negeri spiritual yang telah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci, karena ia sendiri tak pernah sanggup untuk memaafkan, seperti penggambaran hubungan cintanya sebagai tak ubahnya sebuah pengkhianatan atas ras dan bangsanya sendiri antara Celan yang Yahudi dan Ingeborg Bachmann yang Jerman dalam sajaknya yang berjudul In Agypten: “Mesti kau rias perempuan asing di ranjangmu seelok-eloknya. Mesti kau rias dia dengan dukalara atas Ruth dan Mirjam dan Noemi. Mesti kau katakan kepada perempuan asing: Lihat, aku telah tidur dengan mereka!”.<br />
Dalam konteks ini, dapatlah dikatakan bahwa sajak In Agypten sebenarnya merupakan romantisisme sejarah Yahudi dan Yahudi dalam sejarah, ketika ia mengidentikkan dirinya dengan figur-figur penderitaan dan penindasan atas Yahudi di masa lalu seperti Ruth, Naomi, dan Miryam. Ada aroma rasisme dan romantisisme dalam sajak tersebut, yang bisa jadi tak lain merupakan sikap Celan untuk membalas dendam dalam ketakberdayaannya di hadapan sejarah.<br />
Di kesempatan lain, dalam sajaknya yang berjudul Todesfuge, dendam dan amarah tersebut menjelma kehendak untuk membuka sisi barbar sebuah politik dan kekuasaan yang telah menjadi “mesin kepatuhan” dan “pelayan” kesemena-menaan Hitler sang diktator yang oleh Celan disebut sebagai “Sang Maut”, yang tak lain adalah “Maestro dari Jerman”. Sang Maestro yang memerintahkan orang-orang Yahudi untuk menggali kuburannya sendiri setelah menari dan meneguk “susu hitam”: “Susu hitam dinihari kami reguk saat senja, kami reguk siang dan pagi, kami reguk malam, kami reguk dan reguk, kami gali kuburan di udara, di sana orang berbaring tak berdesakan. Seseorang lelaki tinggal di rumah, ia bermain dengan ular, ia menulis, ia menulis ke Jerman kala senja tiba rambutmu kencana Margarete, ia menulisnya dan berjalan keluar, dan bintang berkerlip ia bersuit memanggil herdernya, ia bersuit memanggil Yahudinya, dan menyuruhnya menggali kuburan di tanah, ia perintah kami ayo mainkan irama dansa”.<br />
****<br />
Sementara itu, dari sisi biografis, kehidupan Celan merupakan ikhtiar pelarian tanpa henti, yang bila meminjam frasenya Berthold Damshauser, sebagai seorang “yatim piatu abadi”, selalu merasa diri sebagai orang asing yang tak punya negara, mirip nasib yang juga dialami oleh penyair Yahudi Jerman lainnya, Heinrich Heine.<br />
Celan adalah “seseorang yang terpenjara dalam spiral ingatan akan masa silam yang memabukkan”, usahanya untuk menghilangkan trauma dengan menulis sajak justru semakin menguatkan ingatan akan peristiwa dan pengalamannya di masa silam.<br />
Celan, yang bila kita kembali mengafirmasi jalan pikirnya Derrida, adalah kasus ekstrem sebuah korban dari trauma dan kekerasan yang jatuh dalam kekerasan lainnya, penghancuran diri dan penghapusan diri. Dengan bunuh diri, Celan melakukan “holocaust” terhadap dirinya sendiri. Karena ia percaya, hanya kematian dan pelenyapan diri yang akan mengakhiri penderitaan bathin dan kegilaannya akibat candu-ingatan.<br />
Penderitaan bathin dan kegilaan yang telah mewariskan partita indah sebuah elegi dan nyanyian:</p>
<p>Sia-sia kau gambar hati pada jendela:<br />
Sang Adipati Kesunyian<br />
Menggalang tentara di halaman istana.<br />
Dikibarkannya panji di pohon<br />
Sehelai daun yang bakal biru baginya saat musim gugur tiba;<br />
Ia bagikan tangkai-tangkai kemuraman pada tentara,<br />
Juga bunga sang waktu;<br />
Dengan burung di rambut ia menjauh<br />
Untuk menenggelamkan pedang-pedang.</p>
<p>Sia-sia kau gambar hati pada jendela:<br />
Seorang dewa ada di kerumunan tentara,<br />
Diselubungi jubah yang di tangga dulu tanggal dari bahumu,<br />
Di kala malam, saat istana diamuk kobaran api,<br />
Saat kau bicara layaknya manusia: kekasih&#8230;.<br />
Jubah itu tak dikenalinya, dan ia tak menghiba sang bintang,<br />
Dan pada daun yang melayang di depan, ia tambatkan jalan.<br />
‘O tangkai’, serasa didengarnya suara, ‘O bunga sang waktu’.</p>
<p>(Paul Celan, Umsonst malst du Herzen).</p>
<p>(Sulaiman Djaya, Serang-Banten 2009). *Penggiat Kubah Budaya dan Forum Mahasiswa Ciputat</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=97&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/06/25/tentang-candu-dan-ingatan-trauma-dan-sejarah-dalam-sajak-sajak-paul-celan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Demokrasi, Kecewa dan Harap</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/05/22/demokrasi-kecewa-dan-harap/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/05/22/demokrasi-kecewa-dan-harap/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 13:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[resensi buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Tempo 13/XXXVIII 18 Mei 2009
Oleh: Testriono 
(Peneliti di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan Aktif di Formaci)
Demokrasi Indonesia di mata sejumlah pakar. Buku ini berisi perdebatan intelektual di ranah politik yang selama sepuluh tahun terakhir jarang kita dapati.
Demokrasi dan Kekecewaan
Penulis: Goenawan Mohamad, dkk.
Penyunting: Ihsan Ali-Fauzi &#38; Samsu Rizal Panggabean
Penerbit: Pusat Studi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=55&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="news-abstract">Majalah Tempo<strong> <span style="font-size:xx-small;font-family:Geneva, Arial, Helvetica, sans-serif;">13/XXXVIII 18 Mei 2009</span></strong></div>
<div class="news-abstract"><strong>Oleh: Testriono </strong></div>
<div class="news-abstract"><strong>(Peneliti di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan Aktif di Formaci)</strong></div>
<div class="news-abstract">Demokrasi Indonesia di mata sejumlah pakar. Buku ini berisi perdebatan intelektual di ranah politik yang selama sepuluh tahun terakhir jarang kita dapati.</div>
<blockquote class="news-content"><p><span style="font-size:xx-small;font-family:arial;"><span style="color:#cc3300;"><strong><img class="size-full wp-image-76 alignleft" style="margin:10px;" title="images" src="http://formaci.files.wordpress.com/2009/05/images.jpeg?w=75&#038;h=103" alt="images" width="75" height="103" />Demokrasi dan Kekecewaan</strong></span><br />
<strong>Penulis:</strong> Goenawan Mohamad, dkk.<br />
<strong>Penyunting:</strong> Ihsan Ali-Fauzi &amp; Samsu Rizal Panggabean<br />
<strong>Penerbit:</strong> Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad), Yayasan Paramadina, 2009<br />
<strong>Tebal:</strong> xvi + 100 halaman</span></p></blockquote>
<p class="news-content">KETIKA politik jatuh menjadi semata-mata persaingan rutin mengejar kuasa dengan berbagai cara, demokrasi jadi nasib buruk yang tak dapat ditampik. Ulah para anggota DPR yang korup, politikus yang hanya berkhidmat kursi, dan partai-partai yang terlampau egoistis mengejar kepentingannya membuat harapan pada demokrasi jadi retak.</p>
<p class="news-content"><span id="more-55"></span></p>
<p class="news-content">Demokrasi dan bagaimana kekecewaan terhadapnya dirumuskan, itulah yang muncul dalam buku Demokrasi dan Kekecewaan. Sampul buku ini menegaskan kekecewaan itu sembari mengejek: memajang poster kampanye sejumlah calon anggota legislatif dengan aneka gaya, dari superman sampai rocker. Itukah hasil demokrasi kita?</p>
<p class="news-content">Demokrasi dan Kekecewaan bermula dari orasi ilmiah budayawan Goenawan Mohamad dalam acara Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML), di Universitas Paramadina, Jakarta, 23 Oktober 2008. Orasi yang kemudian mendapat tanggapan dari sejumlah intelektual: R. William Liddle, Rocky Gerung, Samsu Rizal Panggabean, Dodi Ambardi, Robertus Robet, dan Ihsan Ali-Fauzi.</p>
<p class="news-content">Dalam orasi ”Demokrasi dan Disilusi”, Goenawan seperti mengumandangkan kekecewaan banyak orang terhadap demokrasi yang: (1) tak mungkin mewakili semua aspirasi karena berdasar pada konsensus, dan (2) tak membuka peluang alternatif-alternat if baru. Apa yang masih tersisa lantas?</p>
<p class="news-content">Goenawan mendakwahkan untuk selalu setia mengembalikan politik sebagai perjuangan (la politique—Robet menerjemahkannya sebagai ”yang politis”, yang muncul dalam peristiwa-peristiwa besar, seperti Reformasi), melalui perundang-undangan dan partai atau justru melawannya. Sedangkan Rocky menganjurkan untuk terus-menerus meradikalisasi demokrasi, agar toleransi, keadilan, dan civil liberties dapat terpenuhi.</p>
<p class="news-content">Goenawan menunjuk biang kemandulan demokrasi itu pada ”kurva lonceng”: bahwa sebagian besar orang tak menggandrungi perubahan yang radikal dan ekstrem. Pada titik ini, ia seperti menyuarakan kritik kaum kiri tentang cacat bawaan demokrasi: ketakcukupannya untuk menghasilkan perubahan radikal.</p>
<p class="news-content">Syukurlah, tak semua penulis dalam buku ini kecewa pada demokrasi. Liddle, Indonesianis paling berpengaruh saat ini, menyabarkan kita lewat sabda Weber: ”Politik adalah pengeboran kayu keras yang sulit dan lama.” Ia memberikan amsal pengalaman panjang Amerika Serikat berdemokrasi, sehingga seorang Obama, warga Afro-Amerika, dapat terpilih menjadi presiden. Liddle yakin, bangsa Indonesia bisa belajar dari sejarah Amerika, dengan mengoptimalkan aktor-aktor politik di dalam sistem: pemerintah pusat, partai, anggota legislatif, dan terpenting pemerintah daerah.</p>
<p class="news-content">Optimisme yang terus terang diperlihatkan oleh Rizal Panggabean, dengan menunjuk tampilnya Indonesia sebagai kampiun demokrasi terbesar di Asia Tenggara. Indikasinya: kekerasan agama dan etnis yang muncul menyusul jatuhnya Orde Baru teratasi, hak-hak politik dan kebebasan sipil terpenuhi. Meski, harus diakui masih terdapat sejumlah ancaman, seperti fundamentalisme keagamaan, ekstremisme, dan separatisme. Rizal membujuk kita merayakan demokrasi sekaligus menerima kekurangannya.</p>
<p>Sedangkan Ihsan, setelah melihat pengalaman munculnya partai-partai libertarian- kiri (”partai gerakan”) di Eropa, sampai pada kesimpulan setengah provokatif tentang perlunya membentuk ”partai gerakan” sebagai alternatif dari partai-partai lama sekaligus pendobrak bagi kebuntuan demokrasi.</p>
<p class="news-content">Buku ini mengisi perdebatan intelektual di ranah politik yang selama sepuluh tahun terakhir jarang kita dapati. Sayang, beberapa artikel yang disajikan terasa bagai minum beberapa teguk air namun harus berhenti sebab gelas telah kosong. Kita berharap perdebatan itu hadir dengan argumentasi dan elaborasi yang lebih dalam.</p>
<p class="news-content">Boleh jadi, buku ini sekadar pembuka bagi perdebatan lebih jauh. Yang jelas, buku ini telah mengingatkan kita untuk terus mengikhtiarkan substansi demokrasi, dan tak hanya berhenti pada prosedur.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=55&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/05/22/demokrasi-kecewa-dan-harap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://formaci.files.wordpress.com/2009/05/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sketsa Konsili XXI Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2009/02/09/sketsa-konsili-xxi-forum-mahasiswa-ciputat-formaci/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2009/02/09/sketsa-konsili-xxi-forum-mahasiswa-ciputat-formaci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 14:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/2009/02/09/sketsa-konsili-xxi-forum-mahasiswa-ciputat-formaci/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sukron Hadi
Sabtu 7 Februari 2009, kami, 60 anggota Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dari berbagai generasi bersuka ria menikmati perjalanan menuju pantai Carita untuk mengadakan Konsili yang ke 21. Enam puluh adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan anggota Formaci yang sebenarnya, yang pernah aktif di forum diskusi ini, dari tahun berdirinya 1986, sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=51&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh: Sukron Hadi</p>
<p>Sabtu 7 Februari 2009, kami, 60 anggota Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci) dari berbagai generasi bersuka ria menikmati perjalanan menuju pantai Carita untuk mengadakan Konsili yang ke 21. Enam puluh adalah jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan anggota Formaci yang sebenarnya, yang pernah aktif di forum diskusi ini, dari tahun berdirinya 1986, sampai 2009 ini.</p>
<p><span id="more-51"></span> Meski dalam perjalanan kami didera berbagai cobaan; jadwal keberangkatan yang molor, mobil mogok dua kali, salah rute dan cobaan lainnya, namun kami tetap bersuka ria, bernyanyi, tertawa lepas dalam bis Langgeng Jaya. Ya, berbagai cobaan tak mengusik semangat untuk menyelenggarakan konsili yang tertanam kuat di dalam dada kami.<br />
Sekitar pukul 15.30 kami sampai di cottage yang disediakan senior kami, TB. Ace Khasan Sadzali, beliau menyewakan dua cottege di pantai Carita untuk kegiatan Konsili. 5 jam perjalanan tak membekaskan lelah pada kami, setelah menaruh perbekalan di dalam cottege, kami langsung bermain sepak bola, bernyanyi bersama, main kartu, bercanda tawa-lepas, di bibir pantai.<br />
Malamnya, sambil menunggu kedatangan para senior yang bersedia hadir, kami isi waktu dengan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Pukul 20.00 telah lewat, namun senior yang sedianya akan hadir pada acara Konsili, karena berbagai halangan dan alasan mereka tidak jadi hadir; Saiful Mujani, Pak Jajat, Budhy Munawar Rachman, Ikhsan Ali Fauzi, Neng Dara Affiah, Nong Darol Mahmada, Mukhlis, Yuni, Merhan, Burhanuddin Muhtadi, Anick HT, Fauni, Ray Rangkuti, dll. mereka tidak jadi hadir, hanya Ka Tasman beserta istri yang bisa hadir.<br />
Pukul 20.30 acara Konsili dibuka, diawali dengan acara ramah tamah yang padat dengan suara derai tawa lepas. Kemudian disambung dengan Laporan Pertanggung-Jawaban Imam periode Formaci 2007-2009, Evi Rachmawati, yang mau turun jabatan. Kemudian disambung dengan evaluasi kegiatan Formaci dan evaluasi terhadap anggota Formaci aktif periode kepemimpinan Evi Rachmawati, dari kekurangan, sampai keunggulan, juga permasalahan internal, eksternal anggota Formaci aktif, kritik pedas, tantangan ke depan Formaci sebagai forum diskusi, permasalahan diskusi dll. Meskipun acara kedua dan ketiga tersebut serius tapi unsur ceria dan tawa selalu hadir untuk mengimbangi ketegangan.<br />
Sedianya acara konsili akan diselesaikan sampai pagi suntuk, seperti nonton tanggapan wayang kulit, namun berhubung dua sejoli Thowik dan Byah sudah membeli ikan untuk dibakar dan jika tidak dibakar secepatnya 50-an ekor ikan akan membusuk, acara konsilipun pada pukul 01.00 WIB terpaksa dibreak sampai pagi demi ikan bakar. Dan kami pun berpesta membakar ikan ditemani angin laut dan suara debyur ombak sampai pagi. Di tengah pesta bakar ikan Ka Ace Khasan Sadzili hadir menyambangi kami.<br />
Paginya kami terkapar kelelahan, tidur. Acara konsili yang belum selesai membuat kami tidur hanya beberapa jam. Pada pukul 10.00 acara konsili dilanjutkan, yakni acara membahas apa yang harus dilakukan anggota Formaci aktif dan Formaci sebagai organisasi diskusi. Dalam pembahasan ini banyak sekali tawaran dan tantangan yang harus dijalankan Formaci ke depan dan dalam pembahasan ini muncul perdebatan apakah kepemimpinan Formaci ke depan memakai Imam atau Presidium.<br />
Imam adalah gelar yang disandang seseorang formacian yang terpilih melalui pemilihan oleh kami, anggota Formaci peserta Konsili. Tradisi kepemimpinan seperti ini adalah warisan dari pendiri Formaci  Ikhsan Ali Fauzi, Saiful Mujani dll. kepemimpinan ini  terpusat pada satu orang  yang demokratis dan dianggap paling unggul di antara anggota aktif Formaci lainnya. Seluruh persoalan Formaci secara formal ditanggungjawabi oleh satu orang Imam.<br />
Tawaran kedua adalah sistem Presidium, yang mana kepimimpinan Formaci terpusat dan ditanggungjawabi oleh tiga orang yang mengurusi tiga pos keformacian; pos diskusi, administrasi dan luar negeri. Kepemimpinan Presidium bukan hal yang baru dalam sejarah Formaci, sudah berkali-kali digunakan di Formaci.<br />
Memakai di antara dua sistem tersebut bukan pilihan yang kaku, adalah hal yang mana suka, sesuai kebutuhan, dan merupakan hasil kesepakatan bersama Formacian peserta Konsili. Perdebatan memakai sistem kepemimpinan yang seperti apa, pada Konsili ini cukup tegang. Dari yang membela kepemimpinan Imam berargumentasi bahwa pada kepemimpinan memakai Imam pun pembagian tiga pos yang ada di sistem Presidium tetap ada, kenapa harus pakai Presidium? Gitu aja kok repot?.<br />
Sedangkan dari pihak yang mengusung Presidium berargumentasi bahwa sistem Presidium lebih efektif untuk konteks kondisi anggota Formaci kini dan mengacu pada ketidak-efektifan sistem Imam sebelumnya, yang dipegang oleh anggota Formaci yang tidak tinggal di basecamp Formaci. Maka yang diperlukan memimpin dan mengurusi Formaci adalah “orang dalam” yang dalam usia aktif dan tinggal di Formaci, namun karena di antara anggota aktif tidak ada yang lebih menonjol di antara lainnya, maka sistem Presidium sangat efektif yang membagi tanggung jawab keformacian ke tiga orang anggota aktif yang tinggal di Formaci. Sistem Presidium bukan berarti mendefinisikan anggota Formaci aktif tidak ada yang kompeten menjabat sebagai Imam, namun poinnya adalah masalah keefektifan kepemimpinan yang diperlukan untuk konteks Formaci saat ini.<br />
Adu argumentasi tersebut memakan waktu yang cukup lama, hingga akhirnya, karena argumentasi mereka yang mengusung Presidium, lebih sedikit kuat dibanding argumentasi mereka yang mengusung Imam, dan karena mayoritas anggota aktif lebih setuju dengan sistem Presidium, maka diputuskan bahwa kepemimpinan Formaci untuk periode 2009-2010 menggunakan sistem Presidium.<br />
Setelah pembahasan “apa yang harus dilakukan Formaci ke depan” selesai, kemudian kami masuk ke acara inti yakni pemilihan Presidium Formaci periode 2009-2010, dengan menggunakan sistem pemilihan langsung, bagi setiap peserta Konsili mengusung tiga nama calon Presidium. Dari hasil pemilihan tersebut diputuskan tiga nama terpilih, yakni<strong> M. Irsyad menjabat sebagai Presidium I, Sukron Hadi menjabat sebagai Presidium II, dan M. Ismail sebagai Presidium III.</strong><br />
Setelah itu, menginjak ke acara yang dramatis, yakni penyerahan tanggung jawab kepemimpinan Formaci secara simbolik oleh kepemimpinan lama, Imam 2007-2009, Evi Racmawati kepada kepemimpinan baru; Presidium 2009-2010; M. Irsyad, Sukron Hadi dan M. Ismail.<br />
Dalam kata sambutan, ketiganya mengatakan; Jabatan yang kami sandang mengandung tanggung jawab yang berat, dan demi kebaikan Formaci, kami harap teman-teman Formaci sekalian membantu kami membawa Formaci ke arah yang lebih baik.  Setelah ketiganya selesai mengutarakan kata sambutan, acara konsili pun secara formal ditutup, tepat pada pukul 13.30 WIB.<br />
Dalam jadwal acara tercatat, pulang ke Ciputat pukul 16.00. Untuk menunggu waktu pulang kami manfaatkan alam pantai Carita dengan bersuka ria; bermain sepak bola, naik bananna boat, main kartu, bernyanyi bersama-sama dan aktivitas menyenangkan lainnya. Namun suka cita tersebut tidak menenggelamkan harapan kami; semog dalam kepemimpinan yang baru ini, Formaci sebagai penjaga gawang tradisi intelektualitas di Ciputat, terus menjadi yang terbaik dan berkualitas, bahkan lebih, harap kami.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=51&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2009/02/09/sketsa-konsili-xxi-forum-mahasiswa-ciputat-formaci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Creative Capitalism versi J.A. Schumpeter</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2008/12/25/creative-capitalism-versi-ja-schumpeter/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2008/12/25/creative-capitalism-versi-ja-schumpeter/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 05:04:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/2008/12/25/creative-capitalism-versi-ja-schumpeter/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Muhammad Irsyad
Banyak analis mengatakan bahwa krisis finansial global yang dimulai dari AS, sesungguhnya merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembangunan ekonomi yang berlebihan di sektor finansial dibandingkan sektor riil yang berakar dari sistem moneter buatan The Fed. Dan cara yang populer untuk mengatasi krisis ini, karenanya, adalah dengan memberikan energi yang lebih besar pada sektor riil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=46&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh Muhammad Irsyad</p>
<p>Banyak analis mengatakan bahwa krisis finansial global yang dimulai dari AS, sesungguhnya merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembangunan ekonomi yang berlebihan di sektor finansial dibandingkan sektor riil yang berakar dari sistem moneter buatan The Fed. Dan cara yang populer untuk mengatasi krisis ini, karenanya, adalah dengan memberikan energi yang lebih besar pada sektor riil sebagaimana yang pernah dilakukan Presiden AS Roosevelt bersama penasehat ekonominya yang terkenal John Maynard Keynes untuk membangun secara massif infrastruktur sektor riil pasca terjadinya depresi besar di AS, di tahun 1930-an. Yang mendorong produktifitas riil tak lain adalah kerja, inovasi dan kreatifitas. Akar kreatifitas ini ditemukan dalam karya-karya ekonom Jerman, Joseph Alois Schumpeter. Menurut Jerry Z. Muller dalam bukunya The Mind and the Market, Schumpeter menjadikan tema kepemimpinan kreatif (creative leadership) sebagai isu sentral dalam konsepsinya tentang kapitalisme. Schumpeter memang bukan orang pertama yang melakukan hal itu tapi ia mampu mengembangkan implikasi-implikasi dari kepemimpinan kreatif lebih luas dan mengintegrasikannya dengan ilmu ekonomi yang ada saat itu. Makalah ini akan berusaha mengeksplorasi hal itu.</p>
<p><span id="more-46"></span></p>
<p>Pendahuluan</p>
<p>Istilah “Creative Capitalism” pertama kali saya dengar dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Freedom Institute. Diskusi dengan judul “Kapitalisme Kreatif dan Krisis Ekonomi Dunia” tanggal 24 September 2008 itu begitu banyak memberikan inspirasi bagi saya. Dr. Chatib Basri (ekonom &amp; dosen FE-UI), dan Dr. Rizal Malarangeng (direktur eksekutif Freedom Institute) mampu menguraikan masalah rumit seperti krisis keuangan global dengan jelas dan mudah dicerna oleh orang awam seperti saya. “Creative Capitalism” atau Kapitalisme Kreatif adalah sebuah pendekatan di mana pemerintah, sektor bisnis, dan kegiatan-kegiatan nirlaba, saling bekerjasama untuk memperluas jangkauan pasar, sehingga akan semakin banyak manusia yang memperoleh keuntungan, atau mendapatkan pengakuan. Istilah ini pertama kali diperkenalkan Bill Gates dalam World Economic Forum, pada 24 Januari 2008, di Davos, Switzerland. Dengan penambahan kata kreatif pada kapitalisme, Bill Gates seperti ingin mengajak untuk memperbaiki kapitalisme yang sedang goncang saat ini.</p>
<p>Saya ingat dalam diskusi di Freedom itu Chatib mengatakan, “Inti dari tulisan Bill Gates, sebetulnya adalah apa pun dalam hubungan manusia di dunia ini basisnya adalah insentif dan disinsentif. Dan market itu menjadi powerful karena dia menggunakan instrumen harga sebagai incentive dan disincentive mechanism. Dalam kasus Subprime Mortgage seandainya insentifnya tepat, krisis di Amerika tidak akan terjadi. Tapi yang terjadi adalah insentif diberikan untuk sesuatu yang mestinya tidak perlu dilakukan. Di mana orang mau punya rumah, kalau bunga kredit rumah waktu itu mahal, ya seharusnya memang dibayar mahal.”</p>
<p>Siklus moda ekonomi Amerika memang selalu berputar. Dari siklus liberal, digantikan siklus konservatif, ke siklus liberal baru, lalu ke siklus konservatif baru yang sepertinya saat ini akan segera digantikan.[1] Digantikan oleh apa? Saya tidak tahu, dan saya tidak berpretensi untuk membahas itu dalam makalah ini. Yang ingin Saya bahas dalam makalah ini adalah konsepsi kreatifitas dan kepemimpinan kreatif sebagai penggerak utama ekonomi. Dengan harapan barangkali ini dapat menjadi alternatif bagi ekonomi yang selama ini lebih banyak digerakkan oleh sektor moneter. Saya menemukan ini dalam konsepsi Joseph Schumpeter tentang entrepreneurship sebagai pendorong business cycle dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.</p>
<p>Untuk usaha ke arah sana, maka penting untuk mengetahui siapa sebenarnya sosok Schumpeter ini? Bagaimana situasi sosio historis semasa hidupnya? Bagaimana pengaruh kondisi tersebut terhadap pemikiran Schumpeter? Bagaimana Schumpeter bisa sampai pada konsepsi tentang entrepreneurship? Dan kemudian bagaimana konsepsinya tentang entrepreneurship?</p>
<p>Keterangan tentang Schumpeter saya peroleh dari buku Jerry Z. Muller, The Mind and The Market; Capitalism in Modern European Thought. (sebagian paragraf malah merupakan terjemahan dari buku ini yang saya kutip secara utuh). Catatan kaki dalam makalah ini juga adalah kutipan dalam buku tersebut. Dicantumkan di sini dengan harapan dapat memudahkan siapa pun yang berminat untuk menelusuri dan mengembangkan tema ini lebih lanjut.</p>
<p>Biografi Joseph Schumpeter</p>
<p>Schumpeter lahir di Moravia tahun 1883 – tahun yang sama dimana Marx meninggal – di suatu tempat yang saat itu masuk ke dalam wilayah kerajaan Austro-Hungaria. Dia adalah keturunan generasi entrepreneur.[2] Ayahnya meninggal ketika ia masih kanak-kanak. Ibunya kemudian pindah ke Vienna dan di sana ia menikahi seorang perwira militer aristokrat. Sang Ibu menyekolahkan anak satu-satunya itu ke sekolah menengah paling bergengsi di kota itu bersama anak-anak aristokrat dan borjuis kelas atas. Latar belakang inilah, dan juga fakta bahwa ia seorang Katolik (meski secara kelahiran, bukan secara praktek) yang saat itu merupakan agama mayoritas, membuatnya terbiasa berada di kalangan kelas atas masyarakat Vienna.</p>
<p>Di Universitas Vienna dan Berlin, Schumpeter mempelajari Sejarah, Sosiologi, Ekonomi dan Hukum. Ia kemudian masuk ke London School of Economics, dimana ia mempelajari Etnologi dan mulai menyukai karya-karya pakar Eugenetika Inggris seperti Francis Galton dan Karl Pearson. Keduanya telah membantu Schumpeter mengembangkan isu-isu untuk menjelaskan pencapaian agenda ilmu-ilmu sosial.</p>
<p>Setelah lulus dengan gelar Hukum dari Universitas Vienna, Schumpeter pindah ke Kairo. Di sela-sela waktu luangnya, dia menulis buku tentang teori-teori Ekonomi. Buku yang kemudian membuatnya bisa mengajar di Universitas Austria. Tahun 1911, di usianya yang ke-26, dia dianugerahi gelar profesor di Czernowitz, Bukorina. Menginjak usianya yang ke-30, Schumpeter telah menerbitkan 4 buku. Dia juga mulai menjadi kontributor Archiv für Sozialwissenschaft und Sozialpolitik, jurnal ilmiah sosial terpenting di Jerman yang saat itu dipimpin oleh Max Weber sebagai penyunting utama dan banyak membincang tentang Eropa. Tahun 1921, ketika pengurus jurnal itu diubah setelah kematian Weber, Schumpeter menjadi salah satu dari 3 penyuntingnya.[3]</p>
<p>Jalan Schumpeter Menuju Konsep Entrepreneurship</p>
<p>Schumpeter tumbuh di lingkungan intelektual sosialis, tapi pemikirannya cenderung kapitalistik. Jerry Z. Muller mencantumkan nama Schumpeter dalam bukunya The Mind and the Market (2002) karena sumbangsih pemikiran Schumpeter terhadap Kapitalisme. Schumpeter sebenarnya sangat tertarik dengan Sosialisme. Ia heran dengan daya tarik sosialisme yang begitu memikat massa bahkan elit intelektual dan sepanjang hidupnya ia berusaha membuktikan kelemahan sosialisme. Ia memulai kehidupan intelektualnya pada masa dimana partai-partai Sosialis Austria dan Jerman sedang naik daun. Dia mengenal intelektual-intelektual sosialis paling berpengaruh pada masanya dan dia memelihara hubungan itu sepanjang hidupnya.</p>
<p>Salah satu ciri paling menohok dari pemikiran Eropa akhir dekade abad ke-19 dan awal dekade abad ke-20 adalah penekanan baru tentang signifikansi elit (golongan atas). Peran elit ini jadi tema yang sangat penting di abad ke-19, seiring usaha orang-orang liberal untuk menciptakan kondisi legal yang bisa membuat kreativitas dan kemampuan superiornya muncul dan memainkan pengaruh yang lebih dominan. Nietzsche bisa dikatakan merupakan pusat di balik gelombang baru teori ini.</p>
<p>Dua tema utama yang menjiwai pemikiran-pemikiran Schumpeter sangat bernuansa Nietzschean: pertama, peran dari sejumlah kecil kaum superior sebagai sumber kreativitas; dan kedua, efek negatif dari kelompok mayoritas yang antipati terhadap klaim-klaim kaum kreatif minoritas. Schumpeter menjadikan tema kepemimpinan kreatif (creative leadership) sebagai isu sentral dalam konsepsinya tentang kapitalisme. Memang Schumpeter bukan orang pertama yang melakukan hal itu tapi ia mampu mengembangkan implikasi-implikasi dari kepemimpinan kreatif lebih luas dan mengintegrasikannya dengan ilmu ekonomi yang ada saat itu.[4]</p>
<p>Akhir abad ke-19, W.H. Mallock, pernah menulis serangkaian buku yang menyatakan bahwa proses material mayoritas orang ternyata bergantung pada sekelompok kecil elit yang berbakat. Perkembangan ekonomi didasari oleh kontribusi-kontribusi yang tidak sama, kata Mallock, dan kontribusi tersebut mempunyai ketidaksetaraan ekonomis sebagaimana ketidaksetaraan balasan yang diperoleh oleh masing-masing mereka. Mallock pertama kali mempresentasikan pandangannya dalam bukunya, Social Equality (1882) dan mengembangkannya dalam Aristocracy &amp; Evolution (1894). Schumpeter adalah pemuja buku Mallock itu. Menurutnya, Mallock adalah seorang analis yang sangat berjasa “yang dilupakan dan tak pernah diakui oleh ekonom-ekonom karena keberaniannya mengatakan kebenaran yang tidak populer.”</p>
<p>Tema Pertama: Kreativitas sebagai inti Konsepsi Entrepreneurship Schumpeter</p>
<p>Awal mula sekali dari karirnya, Schumpeter telah memikirkan kreativitas, evolusi, dan individu-individu superior sebagai isu sentral dalam penjelasan sosio-saintifik beserta implikasi-implikasinya dan dalam penjelasan ilmu ekonomi. Tema elit kreatif digambarkan dalam buku Schumpeter yang pertama, The Nature and Major Principles of Political Economy (1908) yang secara eksplisit penuh dengan tema-tema Nietzschean.[5] Setelah 600 halaman bertele-tele menjelaskan elemen-elemen statis dan stabil dalam kapitalisme, dia menekankan bahwa kapitalisme pada faktanya dinamis dan selalu “berusaha” (dalam bahasa ilmiah disebut “kehendak kuasa”, “wille zur mucht” atau “kehendak untuk mendominasi”, “Heerenwillen”) dalam menjelaskan dinamismenya [6]</p>
<p>Peran elit kreatif dalam proses ekonomi adalah subjek dari karya utamanya yang kedua, The Theory of Economic Development (1911). Di buku inilah ia mulai memasukkan teorinya tentang entrepreneurship. Menurut Schumpeter, Adam Smith telah keliru dan menyesatkan dengan asumsi-asumsinya yang terlalu “egaliter” dan menganggap sepele peran individu-individu yang superior.[7] Schumpeter beranggapan bahwa hukum penawaran dan permintaan, yang telah menjadi fokus ekonomi semenjak Smith, melewatkan apa yang paling esensial dari kapitalisme, yaitu transformasi dinamisnya. Sumbernya ada pada entrepreneur-entrepreneur, sosok yang telah diabaikan dalam pemikiran ekonomi abad ke-19.</p>
<p>Schumpeter membedakan entrepreneur dengan pemilik modal, investor atau manajer – peran-peran yang seringkali dibingungkan dengan istilah entrepreneur. Fungsi entrepreneur menurut Schumpeter adalah untuk memperkenalkan inovasi ekonomi. Inovasi tersebut bisa berbentuk;</p>
<p>1. memperkenalkan komoditas baru atau yang lebih baik secara kualitatif dari komoditas yang sudah ada<br />
2. menemukan pasar baru<br />
3. menemukan metode produksi dan distribusi baru<br />
4. menemukan sumber produksi baru untuk komoditas yang sudah ada atau<br />
5. memperkenalkan organisasi ekonomi yang baru. [8]</p>
<p>Peran entrepreneur adalah untuk mendobrak rutinitas kebiasaan kehidupan ekonomi dan hal ini membutuhkan energi dan mental kreatif yang sungguh langka dan luar biasa.[9] ini membutuhkan “kekuatan kreatif dan paksaan yang dominan” kata Schumpeter.[10] Upaya inovasi juga bisa dengan membuat firma-firma baru untuk membawa utilisasi yang lebih efisien dari faktor produksi. Hal itu, kata Schumpeter adalah tugas yang berat dan membutuhkan kemampuan khusus. Apalagi sejak ia mengundang resistensi sosial dan politik.[11]</p>
<p>Inovasi yang baru membuat sang inovator menguasai pasar tunggal tanpa pesaing. Keuntungan-keuntungan spektakuler akan diperoleh inovator yang memiliki monopoli. Akhirnya orang lain pun meniru inovasinya dan terciptalah kompetisi. Pasar tak lagi dikuasai pemain tunggal. Penghasilan sang inovator yang awalnya besar kemudian menyusut demi mempertahankan diri di tengah persaingan. Hasilnya adalah penurunan keuntungan dan kehidupan ekonomi kembali ke situasi yang normal dan statis (aliran sirkuler). Kejayaan dan kemunduran perusahaan air minum Aqua di Indonesia bisa dijadikan contoh yang menguatkan teori Schumpeter ini.</p>
<p>Entrepreneur yang sukses membuat inovasi akan memperoleh keuntungan yang besar, “tapi dia juga memenangkan orang lain, membuka jalan dan membuat model yang bisa mereka jiplak. Orang lain bisa dan akan mengikutinya. Pertama mungkin hanya seorang dua orang tapi kemudian menjadi segerombolan.[12] Pola pasang surut yang memutarkan siklus bisnis (business cycle) ini kata Schumpeter bisa dijelaskan dengan tahap pengenalan, imitasi, dan absorpsi (penyerapan, pengisapan) kluster-kluster dalam inovasi-inovasi entrepreneur.</p>
<p>Seorang entrepreneur tak hanya memenuhi fungsi ekonomi, tapi ia juga merepresentasikan sebuah tipe psikologis. Tipe psikologis ini tak bisa dijelaskan dengan skema motivasi-motivasi yang biasa digunakan ekonom. Seorang usahawan lebih dimotivasi oleh “mimpi menemukan kerajaan abadi,” sering kali semacam dinasti trans-generasi. Ia digerakkan kehendak yang bisa membuat seseorang superior terhadap seseorang yang lain dan perolehan finansial lebih dinilai sebagai “index kesuksesan dan simptom kemenangan.”</p>
<p>“Kebahagiaan karena bisa menciptakan sesuatu, menjadikan sesutu terwujud atau mengolah energi dan ketidakaslian seseorang”[13] ini adalah elemen non-utilitarian dari aktivitas kapitalis yang oleh Schumpeter coba untuk ditangkap kembali. Sebagaimana yang ia letakkan kemudian, ketika menjelaskan perkembangan kapitalisme, “utilitarianisme hanya bisa dijelaskan sebagai kesalahan yang lengkap sejak konsepsi rasionalitasnya tentang tingkah laku individu dan institusi-institusi sosial secara nyata dan secara radikal benar-benar salah.” [14]</p>
<p>Proses inovasi yang dijelaskan dalam The Theory of Economic Development bisa diterapkan ke dalam aspek kehidupan lainnya dengan sama baiknya.[15] Pembedaan antara pemimpin dan pengikut, antara mereka yang secara esensial melanjutkan cara yang telah diberikan dalam melakukan sesuatu dengan mereka yang membuat metode baru, ada dalam setiap aspek kehidupan, tak hanya ekonomi. [16]</p>
<p>Beberapa implikasi yang lebih luas dari pendirian-pendirian Schumpeter atau pemahaman sosio-saintifik tentang peran elit dituliskan dalam “Social Classes in an Ethnically Homogenous Environtment,” sebuah esai dengan tema yang ia eksplorasi dalam kuliah-kuliahnya sebelum Perang Dunia I, tapi baru dipublikasikan beberapa tahun kemudian. Schumpeter mencantumkan peranan kemampuan/kecerdasan dalam menentukan struktur kelas – baik kemampuan yang diwariskan maupun yang diperoleh lewat kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh posisi sosial.[17]</p>
<p>Menurut Schumpeter, Marxis benar ketika mencantumkan signifikansi kelas sosial, tapi mereka lemah ketika menjelaskan bagaimana kelas-kelas muncul. Ada mobilitas yang jauh lebih kompleks (baik itu ke dalam dan ke luar dari borjuasi modern) dari yang biasanya dianggap. Dan pergerakan itu tergantung bakat dan tingkah laku individu-individu dan keluarga-keluarga. Bagi kapitalis borjuis Eropa abad 19, mobilitas sosial tergantung pada kemampuan: menabung, berinvestasi, serta keterampilan teknis, komersial dan kepemimpinan administratif dalam usaha-usaha milik keluarga. Ini tidak cocok dengan asumsi Marxis tentang “akumulasi otomatis” yang kaya makin kaya dan yang miskin musnah. Apa yang gagal disebutkan oleh Marxis (dan sebetulnya tidak hanya Marxis) adalah fakta adanya “deklinasi otomatis” di bawah kondisi-kondisi kapitalisme kompetitif. Tiadanya inovasi investasi dan metode yang benar membuat usaha keluarga menurun.</p>
<p>Mobilitas sosial dalam korporasi modern juga tergantung pada tingkah laku dan bakat. Karakter yang diidealisasikan oleh Schumpeter adalah karakter yang dibutuhkan untuk jadi usahawan dan meraih kenaikan posisi ke tingkat elit yang baru. Kualitas semacam energi, intelegensi dan visi. Kepemimpinan korporat membutuhkan kualitas-kualitas berbeda seperti kemampuan mengelola sumber daya manusia, daya tahan serta ketajaman visi dalam persaingan dan persinggungan yang tiada akhir.</p>
<p>Tema Kedua: Resentment yang Muncul Sebagai Respon terhadap Entrepreneur</p>
<p>Tema Nietzschean yang kedua yang mempengaruhi karya-karya Schumpeter adalah Resentment: (kemarahan, kedengkian, kesebalan, kedongkolan) antipati psikologis dari kelompok inferior mayoritas terhadap kaum superior minoritas, dan kesebalan kelompok mayoritas dengan tidak menghargai pencapaian-pencapaian orang-orang yang kreatif dan sukses.[18]</p>
<p>Dalam Theory of Economic Development (1911) Schumpeter menyatakan bahwa sentimen anti-entrepreneur bersifat inheren / melekat dalam masyarakat kapitalis. Dinamisme yang disuntikkan oleh entrepreneur ke dalam masyarakat kapitalislah yang membuatnya menjadi objek antipati. Kemunculan entrepreneur baru – yang berarti juga munculnya produksi dan organisasi baru – akan mengakibatkan penurunan ekonomi relatif mereka yang tengah berada dalam status quo.</p>
<p>Proses mobilitas sosial menurun (Deklassierung), ditekankan Schumpeter, sebagai perlawanan yang tak terelakkan tehadap sisi dinamis kapitalisme – inilah apa yang nantinya ia sebut dengan “Creative Destruction.”[19] Sebagaimana Marx, Schumpeter beranggapan bahwa kapitalisme menciptakan oposisinya sendiri. Bedanya, menurut Schumpeter oposisi tersebut muncul bukan karena pemiskinan material tapi karena Resentment (antipati/kedengkian/kemarahan) psikologis yang tercipta oleh dinamisme entrepreneurship.</p>
<p>Asumsi-asumsi tersebut bersandar pada minat Schumpeter dalam menjelaskan daya tarik sosialisme. Dalam usahnya menjelaskan daya tarik sosialisme, Schumpeter tidak hanya membawa dari Nietzsche tapi juga dari teoritikus Politik Italia, Vilfredo Pareto.[20] Pareto memandang sosialisme irasional secara ekonomik dan menjelaskan kenapa ia begitu berpengaruh pada massa buruh dan intelektual-intelektual. Esai Pareto tahun 1901 “The Rise and Fall of Elites” menyampaikan 2 tema yang berulang kali diulas Schumpeter: keniscayaan elit dan urgensi dorongan-dorongan non-rasional dan non-logis dalam menjelaskan aksi sosial. Pareto menganggap bahwa meskipun seandainya doktrin sosialisme menang, realitas elit takkan berubah. Tema-tema tersebut akan muncul dalam karya-karya Schumpeter.</p>
<p>Kesimpulan</p>
<p>Orang-orang yang statis atau bertindak seperti kebanyakan orang tidak akan membawa perubahan. Investigasi empiris Schumpeter terhadap sesuatu di balik dinamika perubahan ekonomi membawanya ke tema “kreativitas dan inovasi “. Dan aktor ekonomi yang membawa inovasi tersebut adalah aktor superior yang jarang dan sedikit yang disebut “entrepeneur”. Jadi entrepreneur adalah pelaku ekonomi yang inovatif yang akan mendobrak keseimbangan dan kejenuhan kehidupan untuk membawanya ke tingkat “akumulasi” yang tinggi.</p>
<p>Entrepreneur mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru, (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri.</p>
<p>Dobrakan dan dinamisasi yang ditimbulkan entrepreneur ternyata mendatangkan kompetitor dan Resentment (kemarahan) banyak orang yang berada dalam status quo. Ekonomi pun berangsur mengalami “deklinasi” atau kembali ke pola, ritme dan rutinitas nya yang biasa. Menurut Schumpeter hal ini sudah inheren dan tak perlu dikhawatirkan karena demikianlah entrepreneur bekerja memutarkan business cycle.</p>
<p>Dibandingkan dengan konsepsi Kapitalisme Kreatif Bill Gates, yang berarti “sebuah pendekatan di mana pemerintah, sektor bisnis, dan kegiatan-kegiatan nirlaba, saling bekerjasama untuk memperluas jangkauan pasar, sehingga akan semakin banyak manusia yang memperoleh insentif (keuntungan),” maka konsepsi Schumpeter ini memiliki banyak kesamaan. Menggelembungkan pasar finansial adalah tindakan yang naif (untuk tidak mengatakan bodoh). Sudah saatnya pembangunan diarahkan ke infrastruktur sektor riil dan peningkatan kesejahteraan publik secara massif.</p>
<p>Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari semua ini.</p>
<p>[1] Untuk lebih jelas lihat artikel artikel Sidelsky, “Time to Bid Farewell to Neo-Classical Revolution.”</p>
<p>[2] Biografi Schumpeter ini dikutip dari Jerry Z. Muller, The Mind and The Market (Alfred A. Knopf, N.Y, 2002) hal. 289 yang ia peroleh dari Richard Swedberg, Schumpeter: A Biography (Princeton, N.J., 1991) dan Wolfgang F. Stolper, Joseph Alois Schumpeter: The Public Life of a Private Man (Princeton, N.I., 1994).</p>
<p>[3] Jerry Z. Muller, The Mind and The Market, (Alfred A. Knopf, N.Y, 2002) hal. 290.</p>
<p>[4] Ibid., diambil dari Enrico Santarelli dan Enzo Pesciarelli, “The Emergence of a Vision: The Development of Schumpeter’s Theory of Entrepreneurship,” History of Political Economy, vol. 22, no. 4 (1990), hal. 677-696.</p>
<p>[5] Untuk tinjauan yang menarik tentang Nietszhe lihat bab “Friedrich Nietzsche” oleh Werner J. Dannhauser, dalam Leo Strauss dan Joseph Cropsey (ed.) History of Political Thought (Chicago, 1963).</p>
<p>[6] Ibid., aslinya terdapat di Joseph A. Schumpeter, Das Wesen und der Hauptinhait der Nationalökonomie, (Leipzig, 1908), hal. 615, 618.</p>
<p>[7] Untuk efek negatif analisis ekonomi yang mengesampingkan elit, lihat komentar Schumpeter terhadap Adam Smith dalam History of Economic Analysis, hal 186: “A judiciously diluted Rousseanism is also evident in the equalitarian tendency of his economic sociology. Human beings seemed to him to be much alike by nature, all reacting in the same simple ways to very simple stimuli, differences being due mainly to different training and different environments. This is very important considering A. Simth’s influence upon nineteenth-century economics. His work was the channel through which eighteenth-century ideas about human nature reached economists.”</p>
<p>[8] Joseph A. Schumpeter, The Theory of Economic Development (New Brunswick, N.J., 1983), hal. 66.</p>
<p>[9] Ibid., hal 86.</p>
<p>[10] Ibid., hal 147. Istilah yang digunakan Schumpeter adalah “The Creative Power of Leader.”</p>
<p>[11] Ibid., hal 133.</p>
<p>[12] Ibid.</p>
<p>[13] Ibid., hal 92-93.</p>
<p>[14] Joseph A. Schumpeter, History of Economic Analysis, hal 409.</p>
<p>[15] Op.Cit., hal. 542-546. Dalam pengantar edisi terjemahan Bahasa Inggris tahun 1934, Schumpeter menyebutkan “the theory of cultural evolution, which is important points presents striking analogies with the economic theory of this book.” Theory, hal. 1xiii.</p>
<p>[16] Ibid., hal. 542-545.</p>
<p>[17] Schumpeter, “Social Classes,” hal 274.</p>
<p>[18] Tema ini banyak dibahas dalam karya Nietzsche, On the Genealogy of Morality.</p>
<p>[19] Theories, Op.Cit., hal. 534.</p>
<p>[20] The Mind, Op.Cit., hal. 294.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=46&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2008/12/25/creative-capitalism-versi-ja-schumpeter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2008/06/24/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2008/06/24/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 06:47:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Saidiman
www.saidiman.wordpress.com
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.

Penyerangan, Bukan Bentrok
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=38&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Oleh: <strong><a href="http://www.saidiman.wordpress.com" target="_blank">Saidiman</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.saidiman.wordpress.com">www.saidiman.wordpress.com</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-38"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penyerangan, Bukan Bentrok</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tidak Ada Provokasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.</p>
<p style="text-align:justify;">Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan.” Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Senjata Api</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada foto yang beredar tentang seorang berbaju putih yang mengangkat pistol. Ini, oleh beberapa berita, disebut sebagai provokasi dari AKKBB. Perlu ditegaskan kembali bahwa aksi hari itu adalah aksi Apel Akbar Peringatan 63 Tahun Pancasila dengan tema “Satu Indonesia untuk Semua.” Sejak awal, aksi AKKBB adalah aksi damai. Jangankan memprovokasi, kita bahkan sepakat bahwa jika ada serangan, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Tidak pernah ada instruksi bagi peserta aksi untuk membawa senjata tajam. Fakta bahwa banyak peserta aksi adalah ibu-ibu dan anak-anak adalah bukti bahwa aksi ini memang dirancang dalam format damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada anggapan bahwa si pembawa pistol adalah massa AKKBB karena mengenakan pita merah putih di lengan bajunya. Yang harus diketahui adalah bahwa panitia aksi hari itu sama sekali tidak menyediakan atribut pita merah putih yang dipasang di lengan baju. Panitia hanya menyediakan kalung pita merah putih yang hanya dipakai oleh para perangkat dan simpul-simpul aksi. Aksi ini sendiri bersifat umum karena mengundang siapa saja melalui media massa dan pengumuman internet. Penggunaan atribut pita merah putih di lengan baju dilakukan pada aksi AKKBB sebelumnya, 6 Mei 2008. Tetapi pada 1 Juni 2008, panitia tidak menyediakan atribut serupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada pernyataan Munarman yang menarik. Dia mengatakan: “Kami tidak bisa dibohongi karena sudah menyusupkan orang kami di tengah-tengah mereka….” (Sabili No. 25 Th. XV).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keluar Rute</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Massa AKKBB juga dianggap menyalahi pemberitahuan kepada pihak polisi karena tidak patuh kepada rute awal, yakni belakang stasiun gambir kemudian menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). AKKBB dianggap melanggar karena masuk ke pelataran Monas.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktanya, rencana aksi AKKBB akan dimulai pukul 14.00 WIB. Penyerangan yang dilakukan FPI di dalam pelataran Monas adalah pukul 13.15 WIB. Perlu diketahui adalah bahwa massa AKKBB yang ada di pelataran Monas tersebut tidak sedang melakukan aksi, melainkan bersiap-siap menuju tempat dimulainya aksi, yakni belakang stasiun Gambir. Massa yang diperkirakan hadir pada aksi peringatan Pancasila tersebut adalah sekitar 10.000 orang. Massa ini belum berkumpul pada satu titik secara utuh, mereka masih berpencar di sekitar Monas, karena hari itu memang Monas sangat ramai. Massa AKKBB masih menunggu dimulainya aksi. Massa AKKBB masih bergerombol di banyak sekali tempat di sekitar Monas. Salah satu kumpulan massa yang terbesar adalah di tempat di mana massa FPI menyerang tersebut. Massa AKKBB masih ada di banyak tempat, sebagian besar masih dalam perjalanan. Tidak benar aksi keluar dari rute, sebab aksi belum dimulai.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menipu Peserta</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berita terakhir yang banyak beredar bahwa AKKBB telah menipu massa anak-anak dan ibu-ibu yang diajak untuk berwisata ke Dufan, tetapi kemudian diarahkan menjadi peserta aksi. Ini juga adalah dusta.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktanya, aksi peringatan Pancasila ini sudah diberitakan melalui tidak kurang dari delapan media cetak. Pemberitahuan ini juga ditambah dengan pengumuman di pelbagai mailing list. Dan tidak pernah keluar bukti bahwa para peserta itu ditipu. Yang terjadi adalah upaya untuk memfitnah aksi AKKBB ini dengan pelbagai cara.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengalihan Isu BBM</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Fitnah yang paling keji dan menggelikan adalah ketika tragedi Monas disebut sebagai bentuk pengalihan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sengaja dilakukan oleh AKKBB. Fitnah ini sangat keji, karena peserta aksi AKKBB yang prihatin terhadap gejala pengabaian dasar negara, Pancasila, kemudian tanpa bukti disebut untuk mengalihkan isu.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktanya, jika tragedi ini disebut sebagai pengalihan isu, maka sesungguhnya yang patut disebut sebagai pelaku pengalihan isu adalah massa penyerang. Inisiatif menyerang ada di tangan FPI. Kalau mereka tidak melakukan gerakan serangan, maka barangkali isu kenaikan harga BBM akan tetap jadi perbincangan. Sekali lagi, AKKBB adalah korban dari sebuah inisiatif serangan dari pihak FPI.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/formaci.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/formaci.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=38&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2008/06/24/pelurusan-fakta-tragedi-berdarah-monas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“FPI dengan Bambu Runcing Serang Barisan Massa yang terdapat Ibu-ibu, Orang-tua, Pemuda dan Beberapa Anak Kecil”</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2008/06/01/%e2%80%9cfpi-dengan-bambu-runcing-serang-barisan-massa-yang-terdapat-ibu-ibu-orang-tua-pemuda-dan-beberapa-anak-kecil%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2008/06/01/%e2%80%9cfpi-dengan-bambu-runcing-serang-barisan-massa-yang-terdapat-ibu-ibu-orang-tua-pemuda-dan-beberapa-anak-kecil%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jun 2008 20:41:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Lapangan Monas, Minggu, 1 Juni, ratusan massa dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), mengadakan apel siang  di Monas, untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Mereka menyeru untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar Negara dan juga mereka menyeru kepada Bangsa untuk menjunjung martabat Bangsa Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=37&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lapangan Monas, Minggu, 1 Juni, ratusan massa dari berbagai elemen organisasi yang tergabung dalam AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), mengadakan apel siang  di Monas, untuk memperingati hari lahirnya Pancasila. Mereka menyeru untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 45 sebagai dasar Negara dan juga mereka menyeru kepada Bangsa untuk menjunjung martabat Bangsa Indonesia dengan menghargai kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan apapun di Negeri pertiwi ini.</p>
<p><span id="more-37"></span><br />
Ratusan Massa AKKBB yang di dalamnya terdapat ibu-ibu, pemuda, orang tua dan beberapa anak kecil, secara tiba-tiba, diserang oleh ratusan massa berseragam putih-putih yang menamakan dirinya FPI (Front Pembela Islam). Massa FPI dengan teriakan Allahu Akbar&#8230;!! dari arah berlawanan masuk ke kerumunanan massa AKKBB dan membabi-buta mengayunkan bambu runcing ke siapapun yang merupakan bagian barisan dari AKKBB.<br />
Anak-anak kecil yang ada di barisan AKKBB menjerit histeris, Ibu-ibu menangis. Setiap laki-laki yang merupakan barisan massa AKKBB di buru, dikejar, jika tertangkap: dipukul tanpa ampun dengan bambu runcing dan kepalan tangan massa FPI. Dan barisan AKKBB pun habis berlarian dalam ketakutan.<br />
Aksi tak beradab tersebut berjalan cukup lama. Insiden berdarah tersebut berhenti saat ratusan polisi datang membendung aksi para preman berjubah tersebut. Polisi terlambat, bambu runcing massa FPI terlanjur melukai belasan Massa AKKBB. Ahmad Suaidy (Wahid Institute), M. Guntur Romli (Yayasan Jurnal Perempuan), Syafi&#8217;i Anwar dll. menjadi korban tindakan biadab massa FPI. Belasan orang harus dilarikan ke Rumah Sakit.<br />
Jenis kekerasan kepada masyarakat atas nama apapun (Allah dan Nabi) tidak dibenarkan, apalagi di negeri hukum yang beradab ini. Agama Islam dan Bangsa Indonesia sangat mengutuk tindakan ini.<br />
FPI menyerang massa AKKBB dengan bambu runcing, karena AKKBB menyeru kepada bangsa untuk menjunjung martabat Bangsa Indonesia dengan menghargai kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan apapun di Negeri pertiwi ini, karena asas dasar negara kita, Pancasila, juga mengamini hal itu.<br />
NU, Muhammadiyah, Persis, Ahmadiyah, HTI, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghuchu dan kepercayaan apapun berhak hidup di Negara Demokrasi yang berasaskan Pancasila ini.<br />
Tindakan tak beradab yang mencoreng nama baik martabat bangsa ini tak boleh didiamkan. Mari jaga martabat bangsa ini! teruskan perjuangan para pendiri bangsa kita! Mari rawat Islam yang Rahmatal lil &#8216;Alamin, Hentikan kekerasan atas nama apapun! ALLAHU AKBAR!!!, hidup Indonesia. (Sukron Hadi)</p>
<p><em>Tulisan ini disebarkan dalam bentuk selebaran di kampus UIN Jakarta</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/formaci.wordpress.com/37/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/formaci.wordpress.com/37/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=37&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2008/06/01/%e2%80%9cfpi-dengan-bambu-runcing-serang-barisan-massa-yang-terdapat-ibu-ibu-orang-tua-pemuda-dan-beberapa-anak-kecil%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus &#8220;Kronologis&#8221;</title>
		<link>http://formaci.wordpress.com/2008/05/19/kasus-kronologis/</link>
		<comments>http://formaci.wordpress.com/2008/05/19/kasus-kronologis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 07:51:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>formaci</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://formaci.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Majalah Tempo, Edisi. 13/XXXVII/19 &#8211; 25 Mei 2008
Zaim Rofiqi
Penerjemah di Freedom Institute, Pegiat Diskusi di Formaci
Di sebuah stasiun televisi, tampak Tukul Arwana sedang memandu sebuah acara bincang-bincang yang sekarang sedang populer. Sambil bercanda, Tukul bertanya kepada salah seorang bintang tamu acara itu: ”Kronologisnya bagaimana? Kenapa sampai kecurian laptop itu?”
Saya tercenung: ”kronologis”? Saya pindah ke stasiun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=35&subd=formaci&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#cc0000;">Majalah Tempo, Edisi. 13/XXXVII/19 &#8211; 25 Mei 2008</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#cc0000;">Zaim Rofiqi</span></strong></p>
<p><strong></strong><em>Penerjemah di Freedom Institute, Pegiat Diskusi di Formaci</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di sebuah stasiun televisi, tampak Tukul Arwana sedang memandu sebuah acara bincang-bincang yang sekarang sedang populer. Sambil bercanda, Tukul bertanya kepada salah seorang bintang tamu acara itu: ”Kronologisnya bagaimana? Kenapa sampai kecurian laptop itu?”</p>
<p>Saya tercenung: ”kronologis”? Saya pindah ke stasiun lain. Berita tentang pembunuhan dua anak oleh ibu kandungnya sendiri. Di tengah-tengah tayangan berita itu, seorang penyiar dengan ringan berkata: ”Berikut ini adalah kronologis pembunuhan keji itu.” Saya kembali tercenung: ”kronologis”?</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p>Di majalah yang terbit beberapa bulan lalu, saya membaca judul: ”Kasus Pemerkosaan Upik: Sampai Sekarang Belum Diketahui Kronologisnya.” Saya kembali termenung: ”kronologis”? Beberapa hari kemudian, saya membeli sebuah koran di sebuah halte, dan kembali menemukan penggunaan kata yang sama di halaman depan koran itu: ”Kronologis Pembunuhan Munir Terungkap.”</p>
<p>”Kronologis”? Apakah ini kata baru? Sinonim dari ”kronologi”? Apakah bersama waktu, secara diam-diam, publik telah membentuk dan menahbiskan kata ”kronologis” sebagai sinonim ”kronologi” dan memiliki makna yang sama dengan ”kronologi”? Apakah diam-diam publik telah menabalkan penanda (kata/frasa/ idiom) baru yang ”memperkaya bahasa Indonesia” untuk menunjuk pada petanda (makna/konsep) ”urut-urutan terjadinya sebuah peristiwa”?</p>
<p>Saya sadar, saya sedang berhadapan dengan salah satu contoh dari bentuk kesalahkaprahan publik. Dan kesadaran ini segera memunculkan berbagai pertanyaan lanjutan dalam benak saya: Apakah kasus kesalahkaprahan publik di atas bisa diterima? Sejauh mana kesalahkaprahan publik bisa diterima? Di wilayah mana kesalahkaprahan publik bisa diterima—dan kadang bahkan perlu disyukuri karena memperluas/memperka ya makna sebuah penanda?</p>
<p>Kasus kesalahan penggunaan penanda ”kronologis” di atas tidak dapat diterima, meskipun bersama berjalannya waktu semakin banyak orang (baca: publik) yang menggunakan kata itu. Mengapa? Karena penyimpangan/ kesalahan penggunaan kata ”kronologis” dalam contoh di atas ada dalam wilayah gramatika, bukan dalam wilayah makna (hubungan penanda-petanda)— tentu akan rancu dan membingungkan menganggap bahwa kata ”kronologi” dan ”kronologis” adalah sinonim; selain itu kita akan kesulitan membedakan kata sifat dan kata benda dari penanda ”kronologi”.</p>
<p>Dalam wilayah gramatika tidak berlaku hukum arbitrer—gramatika tidak serta-merta berubah hanya karena sebagian besar pengguna bahasa melakukan penyimpangan/ kesalahan yang secara langsung atau tidak langsung mengubah tata bahasa. Bahasa bersifat arbitrer hanya dalam wilayah makna, wilayah hubungan penanda-petanda. Dalam wilayah gramatika, semua penanda—dan semua pengguna penanda itu, yakni pengguna bahasa—mau tidak mau harus tunduk pada aturan tata bahasa yang sedang berlaku, aturan tata bahasa baku. Kesalahan penggunaaan kata ”kronologis” dalam contoh di atas berada dalam wilayah yang sama dengan kesalahan penggunaan kata ”keluar” dalam kalimat ”Karena gerah, ia keluar ruangan untuk mencari udara segar”: keduanya adalah kesalahan dalam wilayah gramatika, yang jika tidak segera dibenahi akan mengakibatkan kacaunya tata bahasa. Dan jika tata bahasa kacau, akibat selanjutnya adalah merebaknya kebingungan atau tidak maksimalnya komunikasi.</p>
<p>Kesalahkaprahan publik bisa diterima—dan masih harus dilihat apakah kemudian bersama berjalannya waktu akan mengarah pada terbentuknya penanda baru yang diterima dan digunakan secara umum—jika hal ini terjadi di wilayah makna (hubungan penanda-petanda) . Di wilayah inilah hukum konvensi dalam berbahasa berlaku. Di wilayah inilah hukum arbitrer dalam bahasa berlaku: tidak ada benar-salah di situ, karena yang menjadi pertanyaan adalah apakah bersama berjalannya waktu publik menerima atau tidak makna dan penggunaan sebuah penanda. Kesalahkaprahan publik di wilayah ini bahkan kadang bahkan perlu disyukuri karena sangat mungkin akan memperluas/memperka ya makna sebuah penanda.</p>
<p>Saya membayangkan, jika karena alasan keumuman dan waktu kesalahan penggunaan kata ”kronologis” di atas diterima begitu saja dan tidak diluruskan, kesalahan seperti ini mungkin akan merembet ke penanda lain, mengacaukan penanda lain. Jika karena alasan keumuman dan waktu kesalahan seperti ini dibiarkan begitu saja, betapa kacaunya tata bahasa Indonesia.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/formaci.wordpress.com/35/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/formaci.wordpress.com/35/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/formaci.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/formaci.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/formaci.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/formaci.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/formaci.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/formaci.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/formaci.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/formaci.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/formaci.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/formaci.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=formaci.wordpress.com&blog=3406295&post=35&subd=formaci&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://formaci.wordpress.com/2008/05/19/kasus-kronologis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4ef6d8ab3ee8e9d25acfe74a1feed202?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">formaci</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>